Breaking News:

Ingin Menjelajah Pegunungan Arfak di Papua Barat? 3 Aktivitas Seru Ini Wajib Anda Coba

Daerah di ujung timur negeri ini juga memiliki destinasi wisata lain yang tak kalah eksotis, yakni Pegunungan Arfak.

Editor: Astini Mega Sari
KOMPAS.com/WAHYU ADITYO PRODJO
Turis menikmati pemandangan Danau Anggi Giji dari Bukit Kobrey, Distrik Sururey, Kabupaten Pegunungan Arfak, Papua Barat, Kamis (17/8/2018). Danau Anggi Giji merupakan obyek wisata yang bisa dikunjungi oleh wisatawan di Pegunungan Arfak. 

Hal itu berbeda dengan perbukitan di sekitar Anggi Giji yang tandus dan didominasi tumbuhan pakis sebagai ekses perladangan berpindah yang diterapkan warga sejak dulu.

Di samping itu, Anggi Gida memiliki bentangan pasir putih yang dapat dicapai menggunakan perahu dengan tarif Rp 250 ribu rupiah plus ongkos bahan bakar dari dermaga di Kampung Tombrok.

Serupa lautan, pesisir Anggi Gida pun menampakkan gradasi warna biru tua hingga pirus yang menghipnotis.

Jika hendak memandang keduanya dari ketinggian, wisatawan bisa minta diboyong sopir ke puncak Bukit Kobrey.

Di puncak bukit yang membelah kedua danau itu, terpacak papan penunjuk lokasi “Welcome to Anggi” dengan latar panorama danau yang amat permai dibidik kamera.

3. Menyatu dengan budaya setempat

Suku Arfak berada di rumah tradisional, Rumah Kaki Seribu di Distrik Menyambouw, Kabupaten Pegunungan Arfak, Papua Barat, Kamis (16/8/2018). Sebelumnya, Suku Arfak melakukan Tarian Tumbuk Tanah menyambut kedatangan tim Ekspedisi Bumi Cenderawasih Mapala UI.
Suku Arfak berada di rumah tradisional, Rumah Kaki Seribu di Distrik Menyambouw, Kabupaten Pegunungan Arfak, Papua Barat, Kamis (16/8/2018). Sebelumnya, Suku Arfak melakukan Tarian Tumbuk Tanah menyambut kedatangan tim Ekspedisi Bumi Cenderawasih Mapala UI. (KOMPAS.com/WAHYU ADITYO PRODJO)

Setelah meresapi sensasi bertualang di medan offroad dan menyuapi jiwa dengan panorama alam Anggi, wisatawan dapat merasakan hangatnya bercengkerama dengan warga lokal.

Tak perlu risau soal komunikasi dengan warga lokal.

Hampir seluruhnya mampu berkomunikasi dengan bahasa Indonesia secara baku, diwarnai dialek khas timur Indonesia.

Umumnya, penduduk setempat akan dengan senang hati menawari rumahnya sebagai tempat bermalam, terlebih jika wisatawan telah cukup intens berinteraksi.

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved