Breaking News:

Kerusuhan di Manokwari

Polisi Buru Pelaku Rasisme terhadap Mahasiswa Papua di Surabaya, Video Viral Jadi Kunci

Polri berjanji akan mengusut tuntas dugaan praktik rasisme terhadap mahasiswa asal Papua di Surabaya, Jawa Timur, beberapa waktu lalu.

Editor: Sigit Ariyanto
(KOMPAS.com/Devina Halim)
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen (Pol) Dedi Prasetyo di Gedung Humas Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis (20/6/2019). 

TRIBUNPAPUA.COM - Polri berjanji akan mengusut tuntas dugaan praktik rasisme terhadap mahasiswa asal Papua di Surabaya, Jawa Timur, beberapa waktu lalu.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Dedi Prasetyo mengatakan, pintu masuk penyelidikan adalah dari video yang disebarkan dan viral di media sosial.

Video itu menampilkan situasi ketika mahasiswa asal Papua di asrama Surabaya didatangi sekelompok ormas, personel Polri dan TNI terkait dugaan penghinaan bendera merah putih, Jumat (16/8/2019) lalu.

"Nanti akan kami coba dalami lagi. Alat bukti dari video itu dulu. Video itu didalami dulu, setelah itu barulah siapa orang-orang atau oknum-oknum yang terlibat menyampaikan diksi dalam narasi (rasisme) seperti itu," ujar Dedi di Gedung Humas Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (19/8/2019).

 Tangani Kerusuhan di Manokwari, Ini Langkah yang Bakal Dilakukan Pemerintah

Dedi enggan menjelaskan lebih rinci dalam video itu soal siapa dan dari latar belakang mana orang yang melontarkan kalimat berbau rasisme ke mahasiswa Papua.

Selain oknum yang melontarkan kalimat rasisme, polisi juga memburu akun media sosial yang menyebarkan video itu ke medsos.

Sejauh ini teridentifikasi dua akun penyebar video sekaligus menambahkannya dengan narasi rasisme.

Dua akun itu terdiri dari akun Youtube dan akun Facebook.

 Polri Tegaskan Tertembaknya Anggota Polda Papua di Jayapura Tidak terkait Demonstrasi

Keduanya punya nama berbeda.

"Akun yang menyebarkan video itu mengakibatkan kegaduhan di medsos maupun tindakan kerusuhan yang dilakukan kelompok orang yang memang terprovokasi oleh diksi dalam narasi yang disampaikan oknum tersebut," ujar Dedi.

Polri menyebut, provokasi pada konten inilah yang menyebabkan warga di Papua dan Papua Barat marah dan turun ke jalan, Senin (19/8/2019) kemarin.

Bahkan, di Manokwari, Papua Barat, terjadi kerusuhan.

 Gubernur Jateng Ganjar Pranowo Bilang Papua, I Love You di Akhir Pembacaan Puisi Karya Bung Karno

Warga membakar Gedung DPRD, eks kantor gubernur dan sejumlah fasilitas umum.

Mereka menuntut permintaan maaf atas tindakan rasisme yang dialamatkan kepada mahasiswa Papua.

Namun, Dedi enggan menjelaskan lebih rinci perihal dua akun itu.

Perkembangan berikutnya akan disampaikan selengkapnya pada momen konferensi pers.

 Ricuh di Bumi Cenderawasih, Ini Janji Jokowi untuk Warga Papua dan Papua Barat

Dari Aparat?

Sebelumnya, Gubernur Papua Lukas Enembe mengapresiasi upaya hukum yang dilakukan aparat keamanan.

Asalkan, proses hukum itu dijalankan dengan proporsional, profesional dan berkeadilan.

Namun, Lukas meminta polisi tidak melakukan pembiaran apabila masyarakat Papua di manapun menjadi korban persekusi dan main hakim sendiri.

Ia juga menyayangkan ada oknum aparat yang melontarkan kalimat rasisme saat menghadapi mahasiswa Papua di Surabaya.

 Polisi Buru Dua Akun Medsos yang Diduga Sebar Provokasi ke Warga Papua

Hal itu telah melukai hati masyarakat Papua.

Polri sendiri membantah hal tersebut.

Dedi memastikan, kalimat berbau rasisme yang dilontarkan kepada mahasiswa Papua bukan berasal dari personelnya.

Dedi menjelaskan, justru personelnya saat itu melindungi mahasiswa Papua dengan mengevakuasinya dari kepungan sekelompok ormas yang marah akibat informasi dugaan penghinaan bendera merah putih di asrama mahasiswa.

 Pesan-pesan Damai Pasca-Kerusuhan di Papua, Sejumlah Kepala Daerah Meminta Maaf

"Kami mengevakuasi untuk menghindari bentrok fisik antara masyarakat setempat dengan teman-teman mahasiswa Papua," ujar Dedi.

"Awalnya kan memang (diduga) terjadi perusakan terhadap Bendera Merah Putih, itu provokasi awal, sehingga masyarakat setempat melakukan pengepungan," lanjut dia.

Jaminan Kapolda Jatim

Diberitakan Kompas.com, Kapolda Jawa Timur Irjen Luki Hermawan, menjamin keamanan warga Papua yang tinggal di Jawa Timur, untuk kepentingan pekerjaan maupun belajar.

Jaminan tersebut sepanjang tidak melanggar norma-norma hukum yang berlaku.

"Saya pastikan akan menjamin keamanan seluruh warga Papua yang tinggal di Jawa Timur. Bukan hanya Papua tapi seluruh suku dan di Indonesia yang tinggal di Jawa Timur sepanjang tidak melanggar aturan yang ada," kata Luki seusai pertemuan dengan tokoh-tokoh masyarakat Papua dan Muspida Jawa Timur di rumah dinasnya, Senin (19/8/2019) malam.

Di Jawa Timur kata dia, bukan hanya suku Jawa dan Madura yang tinggal menetap, tapi juga banyak dari suku dan etnis lainnya.

 Massa Blokade Jalan hingga Pembakaran Gedung DPRD Papua Barat, Ini Kronologi Kerusuhan di Manokwari

"Selama ini mereka hidup rukun dan harmoni dalam satu bingkai NKRI," jelasnya.

Kehidupan yang harmoni itu sendiri, menurut Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, dapat terbangun saat seluruh warga saling membangun pengertian, lalu saling percaya dan akhirnya saling menghormati satu dengan yang lainnya.

"Makanya harus saling bertatap muka dan intens berkomunikasi," jelasnya.

Dalam pertemuan tersebut, juga hadir Wakil Gubernur Emil Elistianto Dardak, pihak Kodam V Brawijaya, dan kelompok Ikatan Keluarga Besar Papua Surabaya.

Pertemuan non formal tersebut berlangsung hangat, bahkan Gubernur Khofiah sempat memimpin menyayikan lagu Tanah Papua bersama-sama.

(Kompas.com)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Polri Buru Pelaku Rasisme terhadap Mahasiswa Papua"

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved