Pasca-Serangan Drone ke Pabrik Minyak Saudi Aramco, Harga Minyak Bisa Tembus 100 Dolar AS per Barel?

Terpangkasnya produksi minyak di Arab Saudi akibat serangan drone, dinilai tak mampu menahan harga minyak berada di level tinggi untuk waktu yang lama

pep.pertamina.com
Ilustrasi kilang minyak 

Ini didukung prediksi EIA bahwa produksi minyak AS bakan naik sebesar satu juta barel per hari di tahun depan.

Sempat Diragukan, Pendekatan Ajaib Habibie Berhasil Mengangkat Ekonomi Indonesia saat Krisis 1998

Untuk itu, Wahyu menilai hal yang wajar jika harga minyak sulit untuk naik.

Secara tidak langsung, baik OPEC maupun AS sama-sama melakukan kompetisi untuk menguasai pasar minyak dunia.

Di sisi lain, suplai masih sulit dibendung sedangkan permintaan sulit untuk diangkat.

Dengan kejadian kilang minyak Aramco, Wahyu merekomendasikan buy on weakness saat harga mendekati level 50 dolar AS per barel.

Untuk sepekan, pergerakan harga minyak diprediksi berada di kisaran 52 dolar AS per barel hingga 65 dolar AS per barel, dengan prediksi akhir tahun 55 dolar AS per barel.

Pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Papua dan Papua Barat Negatif di Kuartal II-2019

Untuk perdagangan Senin (16/9/2019) harga minyak diperkirakan bergerak pada kisaran support 54,50 dolar AS per barel, 54 dolar AS per barel dan 53,50 dolar AS per barel.

Sedangkan untuk level resistance berada di kisaran 58 dolar AS per barel, 59 dolar AS per barel dan 60 dolar AS per barel.

"Harga kemungkinan masih akan naik, direkomendasikan buy temporary di jangka pendek. Tapi tidak direkomendasikan buy di atas 60 dolar AS per barel, lebih baik antisipasi sell in strength di atas 60 dolar AS per barel," tandasnya.

(Kontan/Intan Nirmala Sari)

Artikel ini telah tayang di Kontan.co.id dengan judul: Skema terburuk, harga minyak bisa ke US$ 100 per barel

Editor: Astini Mega Sari
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved