Walhi Jelaskan Perbedaan Karhutla di Riau dan Kalimantan dengan Kebakaran Hutan di Amazon

Masalah kebakaran hutan dan lahan, serta kabut asap pekat yang menyelimuti Riau dan Kalimantan menyita perhatian publik.

TRIBUNKALTIM/NEVRIANTO HARDI PRASETYO
KEBAKARAN LAHAN - Asap membumbung dari kawasan lahan di kawan Sungai Siring dipantau dari desa Pampang Kecamatan Samarinda Utara, Minggu (15/9/2019). Kebakaran diduga pembakaran lahan sekitar 1 KM dari Runway Bandara APT Pranoto disayangkan karena mengakibatkan penerbangan terganggu disamping itu kebakaran lahan tidak ditangani dengan serius oleh pihak berwenang. 

TRIBUNPAPUA.COM – Masalah kebakaran hutan dan lahan, serta kabut asap pekat yang menyelimuti Riau dan Kalimantan menyita perhatian publik.

Wilayah lain seperti Jambi, Palembang, Banjarmasin, Palangkaraya, hingga negara tetangga Malaysia pun ikut merasakan dampak bencana ini.

Berdasar data Badan Penanggulangan Bencana dan Kementerian Kesehatan yang diolah Litbang Kompas, jumlah penderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat Karhutla ada 52.635 orang, sejak Maret sampai September 2019.

Penderita ISPA ini ditemukan di kota Palembang, Palangkaraya, Kabupaten Banjarbaru, Jambi, Riau, dan Provinsi Kalimantan Barat.

Selain tingginya angka penderita ISPA, kabut asap akibat karhutla juga menyebabkan jarak pandang sangat pendek sehingga membuat jalur transportasi udara terganggu.

Di Sela Tugas Padamkan Karhutla, Anggota Kodim Penajam Paser Utara Salat Beralaskan Daun

 

Kabut asap menyelimuti jalan akses menuju jembatan Siak IV di Kecamatan Rumbai Pesisir, Pekanbaru, Riau, Senin (9/9/2019). Berdasarkan pantauan satelit yang dirilis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru, di Riau terpantau 289 titik, hotspot terbanyak terpantau di Kabupaten Indragiri Hilir 185 titik, kemudian Pelalawan 57 titik, Indragiri Hulu 31 titik, Bengkalis 4 titik, Meranti dan Kampar masing-masing 2 titik, dan Dumai, Kuansing, serta Rokan Hilir masing-masing 1 titik. Sedangkan di provinsi tetangga paling parah ada di Jambi 504 titik, Sumatera Selatan 332 titik, Lampung 70 titik, Bangka Belitung 66 titik, Kepulauan Riau 14 titik, dan Sumatera Barat 3 titik.
Kabut asap menyelimuti jalan akses menuju jembatan Siak IV di Kecamatan Rumbai Pesisir, Pekanbaru, Riau, Senin (9/9/2019). Berdasarkan pantauan satelit yang dirilis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru, di Riau terpantau 289 titik, hotspot terbanyak terpantau di Kabupaten Indragiri Hilir 185 titik, kemudian Pelalawan 57 titik, Indragiri Hulu 31 titik, Bengkalis 4 titik, Meranti dan Kampar masing-masing 2 titik, dan Dumai, Kuansing, serta Rokan Hilir masing-masing 1 titik. Sedangkan di provinsi tetangga paling parah ada di Jambi 504 titik, Sumatera Selatan 332 titik, Lampung 70 titik, Bangka Belitung 66 titik, Kepulauan Riau 14 titik, dan Sumatera Barat 3 titik. (Tribun Pekanbaru/Theo Rizky)

 

Dampak Kabut Asap di Sumatera dan Kalimantan, Puluhan Ribu Warga Kena ISPA hingga Bandara Lumpuh

Kompas.com memberitakan, ada lebih dari 80 jadwal penerbangan dibatalkan karena kondisi ini.

Hal yang paling memprihatinkan adalah, bencana kabut asap pekat akibat karhutla terus terjadi setiap tahun.

Manager Kampanye Pangan, Air, dan Ekosistem Esensial dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), Wahyu A. Pradana menyampaikan, sejak 2018 sampai awal September 2019, total ada 19.000 titik panas di Indonesia.

Namun, apakah bencana karhutla 2019 ini dapat dibandingkan dengan kebakaran hutan Amazon, Brasil yang mencapai rekor terparah tahun ini?

Menjawab pertanyaan itu, Wahyu mengatakan ada hal mendasar yang membedakan karhutla di Indonesia dengan kebakaran hutan Amazon.

Halaman
123
Editor: mohamad yoenus
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved