Kerusuhan di Papua

Tukang Ojek 2 Hari Terlunta-lunta saat Rusuh Wamena, Berjalan Susuri Hutan: Saya Nangis Tiap Malam

Nurasin 2 hari terkatung-katung sejak kerusuhan di Wamena, Dia berjalan menyusuri hutan sebelum akhirnya berlindung di markas Kodim Wamena.

SURYA/HAYU YUDHA PRABOWO
Bupati Malang, Sanusi bersama Kapolres Malang, AKBP Yade Setiawan Ujung, Wakil Wali Kota Malang, Sofyan Edi Jarwoko, dan Ketua DPRD Kota Malang, I Made Rian DK, menyambut pengungsi Wamena Papua asal Jawa Timur yang tiba menggunakan pesawat Hercules di Bandara Abdulrachman Saleh, Malang, Rabu (2/10/2019). Sebanyak 120 pengungsi dari Wamena asal Jawa Timur tiba di Malang untuk kembali ke daerah asal pasca kerusuhan di Wamena. 

TRIBUNPAPUA.COM, MALANG - Nurasin (40) harus terkatung-katung selama dua hari sejak kerusuhan di Wamena pecah.

Dia berjalan menyusuri hutan sebelum akhirnya berlindung di markas Kodim Wamena.

“Saya menangis setiap malam. Istri saya diujung telpon juga menangis. Meminta saya untuk pulang,” kata Nurasin, di Malang, Kamis (3/10/2019).

 

Nurasin adalah warga Kecamatan Nguling yang mengadu nasib ke Papua.

Di sana, ia bekerja sebagai tukang ojek.

Setiap hari, Rp 400 ribu berhasil dibawanya pulang untuk kemudian dikirimkan kepada keluarga.

Cerita Herman saat Wamena Rusuh, Dikejar Massa dan Dilempar Batu hingga Busur: Yang Penting Selamat

“Saya punya dua anak. Tapi mereka semua ada di Pasuruan,” ucapnya.

Nurasin mengaku tak ingin kembali ke Papua.

Ia memilih meneruskan pekerjaanya sebagai nelayan. Profesi yang ia tekuni sebelum ia merantau.

“Trauma mbak. Jadi nelayan saja ndak apa-apa,” tutup Nurasin.

Terkendala Jumlah Armada untuk Evakuasi, 28 Warga Sampang Masih Tertahan di Wamena Papua

Pengungsi Lain

Halaman
1234
Editor: mohamad yoenus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved