Breaking News:

Kerusuhan di Papua

Masa Tanggap Darurat Sudah Lewat, Wiranto Imbau Pendatang Tetap Bertahan di Wamena

Dua pekan setelah kerusuhan, Wamena disebut berangsur pulih. Namun sebagian warga yang mengungsi mengatakan enggan kembali.

KOMPAS.com/Kristian Erdianto
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto. 

TRIBUNPAPUA.COM - Dua pekan setelah kerusuhan, Wamena disebut berangsur pulih. Namun sebagian warga yang mengungsi mengatakan enggan kembali ke kota di Kabupaten Jayawijaya, Papua itu.

"Sudah trauma, tidak mau (kembali)," kata Agnesia Patiung (16) kepada wartawan Jufri Tonapa yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, saat ditanya apakah ia berencana kembali ke Wamena pascainsiden berdarah pada 23 September lalu.

Agnes adalah salah satu warga pendatang yang baru tiba di Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan pada Selasa (8/10/2019) siang dalam gelombang pengungsi asal Wamena.

Hingga Senin (7/10/2019), sudah 286 pengungsi asal Wamena tiba di sana.

Agnes dan keluarga sempat mengungsi selama beberapa hari di markas Komando Distrik Militer 1702 Jayawijaya, sebelum pindah ke Jayapura, dan akhirnya memutuskan pulang kampung ke Toraja.

"Kaca-kaca semua dilempar, kaca-kaca semua jatuh, terus kita sembunyi di bawah kolong meja," tuturnya mengingat pagi yang berubah kelam di sekolahnya di SMA Negeri 1 Wamena.

 

Kunjungi Wamena, Wiranto: Warga yang Mengungsi Ingin Segera Kembali ke Rumah dan Bekerja

Pengungsi lain, Enny Vriend, mengambil langkah serupa.

Aparatur Sipil Negara (ASN) itu membawa serta ketiga anaknya keluar dari Papua untuk menghindari kemungkinan terjadinya kembali kerusuhan.

"Saya cuma amankan anak-anak sementara saja, karena mereka trauma pada saat kerusuhan," ungkap Enny.

"(Anak) yang sudah besar itu sudah mengerti, dia bilang 'Ma, saya takut'."

Halaman
1234
Editor: Sigit Ariyanto
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved