Breaking News:

Jokowi Wacanakan Gaji Bulanan Diganti Upah Per Jam, Ini Tanggapan Pengusaha

Pengusaha menyambut rencana pembayaran upah per jam dan mempercayai hal itu akan meningkatkan produktivitas pekerja.

Tribunnews/Jeprima
Petugas jasa penukaran uang asing saat menghitung pecahan Rp 100.000 di PT Ayu Masagung, Jakarta Pusat, Kamis (1/3/2018). Nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS melemah dan menyentuh Rp 13.761 per Dolar AS. 

TRIBUNPAPUA.COM - Pengusaha menyambut rencana pembayaran upah per jam dan mempercayai hal itu akan meningkatkan produktivitas pekerja.

Ketua umum DPD Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia DKI Jakarta (HIPPI) Sarman Simanjorang menilai rencana itu menarik bagi pelaku usaha.

"Format pengupahan per jam sangat dibutuhkan tenaga kerja yang memiliki produktifitas dan kompetensi yang tinggi," ujar Sarman yang juga menjadi dewan pengupahan DKI Jakarta saat dihubungi Kontan.co.id, Kamis (26/12/2019).

Skema pengupahan tersebut akan menuntut produktifitas pekerja.

Meski begitu kebijakan tersebut perlu didiskusikan secara komprehensif.

Wacana Pemerintah Ganti Gaji Bulanan dengan Upah Per Jam

Sistem tersebut juga harus dibarengi dengan kebijakan dan aturan yang ketat.

Sehingga nantinya tidak menjadi polemik yang berkepanjangan dalam pengupahan.

Meski begitu Wakil Ketua Bidang Ketenagakerjaan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bob Azam bilang bukan sistem pengupahan yang menjadi masalah.

Namun perlu relaksasi dalam regulasi untuk menciptakan lapangan kerja.

"Kita harus buka seluas-luasnya kesempatan kerja buat pencari kerja baik yang bulanan, mingguan, harian, maupun jam-jaman," terang Bob Azam.

Halaman
1234
Editor: Roifah Dzatu Azmah
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved