Keraton Agung Sejagat Bisa Rayu Ratusan Warga untuk Bergabung, Sosiolog Beberkan Alasannya

Totok Santosa Hadiningrat dan istrinya, Dyah Giatrja yang sering dipanggil Kanjeng Ratu, karena memanfaatkan kebanggaan masyarakat menjadi ningrat.

IST/Twitter via ReqNews
Totok Santoso Hadiningrat alias Sinuhun sebagai Raja Keraton Agung Sejagat, dan Dyah Gitarja sebagai Kanjeng Ratu. 

TRIBUNPAPUA.COM - Kemunculan Keraton Agung Sejagat yang dipimpin Sinuhun Totok Santosa Hadiningrat dan istrinya, Dyah Giatrja yang sering dipanggil Kanjeng Ratu, karena memanfaatkan kebanggaan masyarakat menjadi ningrat.

Sehingga, keraton yang ada di Desa Pogung Juru Tengah, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo ini mudah mencari pengikut.

 

Ganjar Khawatirkan soal Keraton Agung Sejagat: Makanya Waktu Minta Izin Tak Diberikan, Tak Jelas

Menurut Sosiolog Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi (Fiskom) Universitas Kristen Satya Wacana, Dr Sri Suwartiningsih, Totok Santosa memanfaatkan pengikutnya yang ingin menjadi ningrat atau kerabat keraton.

"Karena itu pada saat ada peluang untuk menjadi orang yang terhormat dalam hal ini orang keraton dan menggunakan seragam megah, mereka sudah tidak rasional lagi," jelasnya, Rabu (15/1/2020).

Menurut Sri, stratifikasi sosial masih menempatkan kaum priyayi ada di atas.

"Maka pak Toto memiliki kecerdasan licik dalam menggaet warga yang masih pada tataran feodalisme ini. Dia mencoba mencari keuntungan dari peluang ini," tegasnya.

Apalagi, pengikutnya diiming-iming dengan jabatan dan gaji dolar sehingga banyak yang berminat.

"Namun sebenarnya bukan uang yang mereka merasa bangga, namun masyarakat Purworejo yang notabene masih masyarakat desa dan setengah kota, menjadi orang keraton menganggap menaikan status sosial," paparnya.

Raja dan Ratu Keraton Agung Sejagat Ditangkap, Terancam Maksimal Hukuman 10 Tahun Penjara

Sri menilai mereka bangga pada saat memakai seragam dan juga menjadi bagian dari keraton ciptaan Toto yang pintar mengambil peluang ini.

"Masyarakat kita masih rawan akan hal ini. Dengan kondisi masyarakat yang masih pada cara berpikir kolonial dan feodal inilah maka sosok pak Toto menjadi lebih bisa melebarkan sayapnya," ungkapnya.

Halaman
1234
Editor: mohamad yoenus
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved