Kisah Dokter Rawat Pasien Corona Teringat Video Perawat Wuhan: Percayalah Kalian Gak akan Tahu

Cerita seorang dokter di Lampung yang menjadi salah satu tenaga medis yang merawat pasien Covid-19 viral di media sosial Instagram.

(Dok. Instagram @aigozali06)
Foto dokter spesialis paru dan pernapasan, dr Gozali yang memakai APD saat merawat pasien covid 19 di Lampung menceritakan pengalamannya merawat pasien Covid-19 di Instagramnya @aigozali06. 

Ditambah jika manusia itu mengidap penyakit lain yang berpotensi menurunkan sistem imun tubuh.

Sejenak M berkaca. 

M baru saja terbebas dari kanker payudara beberapa tahun silam.

Dia takut kondisinya sebagai penyintas kanker itu akan mempermudah virus corona masuk ke dalam tubuhnya.

“Kadang saya juga takut juga ya, usiaku sekarang 46 tahun cuman kan dulu punya cancer, jadi aku juga berfikir haduh gimna yah ini,” ucap dia.

Bukan hanya itu, M juga ketakutan ketika virus tersebut nyatanya sudah manjalar ke teman-temannya sesama dokter.

Bahkan ada yang meninggal dunia. Namun M enggan menyebutkan nama-nama mereka.

“Saya juga sedih senior-senior saya juga sudah banyak yang kena. Makanya kadang-kadang saya juga hati kecil takut juga,” ucap dia.

Rasa khawatir tidak berhenti di dirinya saja.

Anak dan suami dirumah pun juga ikut jadi perhatiannya. Dia tidak mau pulang kerumah membawa penyakit dan menularkanya kepada keluarga.

Maka dari itu, setiap hendak pulang ke rumah, dia rela mandi di rumah sakit demi memastikan dirinya bersih dari virus.

“Sampai di rumah pun saya usahakan jaga jarak dengan orang rumah,” ucap dia.

Namun terlepas dari itu, M hanya bisa berserah kepada Tuhan.

Ia percaya jika yang maha kuasa akan selalu melindunginya beserta keluarga.

Namun M juga meyakini Tuhan juga memberikan dia akal dan pikiran untuk tetap menjaga diri, bukan hanya berserah belaka namun abai kepada kondisi sekitar.

“Harus punya hikmat, punya pikiran. Karena kan iman tanpa perbuatan adalah mati, sama saja seperti itu saja,” terang dia.

Fasilitas yang kurang

Banyaknya pasien yang berdatangan membuat M dan para tenaga medis lain harus bekerja keras.

Melayaninya pun tidak sembarangan.

Para dokter dan petugas yang lain harus menggunakan alat pelindung diri (APD) yang lengkap, dari ujung kaki hingga ujung kepala.

Terlebih jika ada beberap pasien mereka yang dinyatakan sebagai PDP. Dengan cepat mereka harus menyediakan ruangan isolasi.

Tidak jarang mereka kekurangan ruang isolasi untuk menampung PDP.

Mau tidak mau, ruangan apapun disulapnya menjadi ruang isolasi.

“Kita sebenarnya hanya punya tiga ruang isolasi, satu ruangan itu berisi satu orang. Karena terdesak kita harus ambil keputusan buat ruangan lain. Seperti IGD kita sekarang jadi ruang isolasi,” katanya.

Selain kurangnya ruang isolasi, M  juga mengalami permasalahan lain yakni kurangnya APD.

Mereka setiap harinya harus memakai APD lengkap selama masuk ke dalam ruang isolasi.

Ketika keluar ruangan isolasi, mereka harus melepaskan APD tersebut dan mengganti dengan yang baru.

Belum lagi jika mereka keluar masuk ruang isolasi dalam satu hari. Tidak terhitung berapa APD yang dihabiskan.

Maka dari itu, M menugaskan satu orang petugas medis berada di dalam satu ruangan isolasi.

Nantinya petugas itulah yang merawat pasien di dalam ruangan selama seharian.

M pun memberikan arahan kepada petugas tersebut dari balik kaca, sesekali masuk ke dalam.

“APD kita nggak boleh yang biasa saja, harus yang sama pakai coverall. Lalu petugas enggak boleh keluar masuk, jadi dia harus tetap di ruangan tersebut. Keluar masuk lagi harus memakai ADP yang baru,” ucap dia

Lambat laun persediaan APD pun menipis. Walaupun pada akhirnya pemerintah  memberikan bantuan APD kepada rumah sakitnya.

"Memang saya dengar ada bantuan APD dari pemerintah dalam jumlah banyak. Tapi kita kan ada banyak RSUD se-DKI, bayangkan saja rumah sakit rujukan sebegitu banyaknya enggak mungkin lah kami berharap banyak. Paling puluhan sampai ke kita,” kata dia.

Hal itulah yang membuat beberapa petugas medis juga mulai berjatuhan karena sakit.

Di tempat M sendiri ada dua petugas medis yang mengalami gejala Covid-19. Akhirnya mereka dipulangkan untuk mengisolasi diri di rumah selama 14 hari.

“Tenaga medis akhirnya berkurang. Ya berkurang sekali.” Jelas dia.

Imbauan untuk tetap di rumah

Setelah beberapa hari menangani pasien ODP, PDP dan sebagian positive Covid-19, M menyadari betul pentingnya imbauan pemerintah kepada masyarakat untuk tetap tinggal dirumah

Semakin banyak yang tetap tinggal dirumah, maka emakin mudah mengkontrol peredaran virus corona.

Namun, nampaknya tidak semua masyarakat mengerti akan hal ini.

Kesal dan jengkel begitu dirasakan M lantaran kerap melihat warga yang selalu berkeliaran di luar rumah.

“Begini ya. Bagi saya, semua orang itu adalah ODP, masih dalam pemantauan. Oke kalau kamu tidak terjangkit, tapi bagaimana kalau kamu ini carrier? Kamu mungkin tidak terancam, tapi keluarga kamu terancam, orang lain terancam,” kata dia.

M juga pernah merasa geram dengan salah satu pasiennya yang positif Covid-19.

Pasien ini rupanya enggan menuruti anjuran dokter untuk diisolasi di rumah sakit karena merasa tidak mengalami gejala apa-apa.

Bahkan, setelah diperiksa bukannya mengisolasikan diri di rumah, dia lebih memilih berjalan-jalan keluar rumah.

“Kan kita juga minta puskesmas sama RT dan RW pantau dia. Pasien ini malah keluar-luar rumah,” tutur M.

Walaupun pada akhirnya pasien tersebut mau diisolasi di rumah sakit, tetap saja perbuatanya sempat membuat M jengkel.

“Jadi apa dong daya kami jika masyarakatnya saja seperti itu? Abai akan imbauan?” jelas dia.

Belakangan dia baru mengetahui alasan pasien ini tidak mau mengisolasikan diri lantaran mendapat pandangan miring dari lingkungannya.

Statusnya sebagai positif Covid-19 rupanya cukup membuatnya tersudut di lingkungan sosial.

“Makanya seharusnya orang seperti itu harus tetap di-support. Jangan juga dikucilkan,” terang dia.

Dia berharap masyarakat bisa mengerti tanggung jawab yang diemban para tenaga medis saat ini.

Tidak begitu perlu memberikan bantuan yang dan sebagainya.

Bagi M dan teman-teman medis lainnya, masyarakat tetap berada di rumah saja sudah cukup membantu kerja mereka.

(Kompas.com/ Kontributor Lampung, Tri Purna Jaya)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kisah Dokter di Lampung Rawat Pasien Covid-19, Cuci Tangan Puluhan Kali dalam Satu Jam" dan "Keluh Kesah Tenaga Medis di Balik Perjuangan Melawan Covid-19"

Editor: Roifah Dzatu Azmah
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved