Breaking News:

Virus Corona

Anies Sebut Pemakaman dengan Protap Covid-19 di DKI Capai 987: Kurva Kasus Corona Kini Bentuknya 'J'

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan korban Virus Corona di Ibu Kota terus bertambah.

TRIBUNNEWS.COM/IQBAL FIRDAUS
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berpidato pada acara Awarding Night Padmamitra+ Awards 2019 di Balai Kota, Jakarta Pusat, Selasa (5/11/2019). Padmamitra Awards merupakan penghargaan pemerintah terhadap badan usaha yang telah menyelenggarakan CSR di bidang kesejahteraan sosial. 

"Itu bagaimana penjelasannya? Penjelasannya karena mereka tidak segera melakukan penutupan, tidak segera melakukan pembatasan sosial, ketika sudah melonjak baru pembatasan sosial, loh berat," katanya.

Untuk itu Anies mengungkapkan, ia juga mempelajari apa yang terjadi di Wuhan, Ibu Kota Provinsi Hubei, China, angka penyebaran virus Covid-19 menurun saat dilakukan pembatasan (lockdown) oleh pemerintah China.

Kasus Corona di Wuhan turun setelah ada kebijakan lock down, sehingga tidak ada interaksi social.

“Inilah pelajaran penting, kenapa itu sejak Maret kita lakukan (pembatasan sosial di Jakarta--Red). Ya karena kita baca data di Wuhan. Mau kita potong penyebarannya," jelasnya.

Anies juga menanggapi berbagai komentar miring terhadapnya selama melakukan penanganan Covid-19 ini. Dirinya menganggap hal itu bukan sebagai bentuk masalah.

"Kalau soal bully itu tidak apa-apalah, itu bagian dari takdirnya Gubernur Jakarta. Paketnya itu di ejek dibully itu udah sepaket dan diterima sebagai kenyataan bukan sebagai masalah," ucapnya.

Belum Punya Data Pasti

Anies mengakui Pemprov DKI Jakarta belum memiliki angka pasti jumlah orang yang terinfeksi Covid-19.

Namun pemerintah baru mengantongi jumlah yang terinfeksi Virus Corona setelah melakukan tes kesehatan kepada pihak yang bersangkutan

“Hari ini kalau ditanya jumlah orang yang positif Covid-19, kami tidak tahu kok. Tapi yang kami tahu jumlah orang yang sudah dites dengan hasil positif. Itu kan dua hal yang berbeda. Orang yang sudah dites positif, dengan orang yang sudah terjangkit Covid-19,” tambahnya.

Gubernur Anies Baswedan mencontohkan, misalnya di suatu daerah jumlah populasinya ada 1 juta orang. Pemerintah kemudian mengecek kesehatan 1.000 warganya.

Dari 1.000 warga yang menjalani uji Covid-19, kemudian diperoleh sejumlah kasus positif.

Sehingga amat tidak mungkin orang yang dinyatakan positif Corona ada 2.000, karena yang diperiksa hanya seribu.

“Kami itu hanya tahu angka orang yang sudah dites, tapi kami belum tahu berapa angka yang sesungguhnya sudah terjangkiti Covid-19,” imbuhnya.

Dalam kesempatan itu, Anies menyebut sebetulnya DKI Jakarta telah melakukan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) lebih dulu, sebelum disetujui Kementerian Kesehatan RI.

Kebijakan PSBB yang dilakukan Anies di antaranya menutup sementara tempat pariwisata yang dikelola pemerintah atau swasta, meliburkan aktivitas sekolah, mengubah metode kerja pekerja menjadi bekerja di rumah (work from home/WFH), mengurangi jam operasional angkutan publik dan sebagainya.

“Kami melakukan PSBB dengan peraturan memang baru empat hari (sejak Jumat, 10/4/2020). Tapi sesungguhnya PSBB itu sudah dilakukan mulai 14 Maret."

"Artinya, kami melakukan langkah ini lebih awal dan ini hanya bisa dinilai (kebijakan PSBB) di kemudian hari, nggak bisa sekarang,” tambahnya.

Waspadai Gejala Virus Corona dari Ringan hingga Berat, Ini Penjelasan Kemenkes hingga WHO

Awasi Orang Asing

Anies Baswedan mengaku sudah memanggil tim intelijen dan imigrasi untuk memantau keluar masuk orang Tiongkok di Jakarta, sejak Januri lalu.

Mereka yang tergabung dalam Tim Pengawasan Orang Asing (Tim Pora) itu diminta awasi pergerakan Covid-19.

Pemantauan itu kata Anies sudah dimulai jauh sebelum kasus positif satu dan dua yang terjadi di Depok, Jawa Barat, pada awal Maret 2020.

Sejak awal Januari ketika Wuhan mulai mendeteksi adanya virus baru, DKI Jakarta disebut sudah mulai bersiap mengantisipasi masuknya virus ke Jakarta.

"Jadi sejak Januari kami monitor terus Covid-19. Saya panggil Tim Pora yang didalamnnya ada imigrasi dan intelijen. Disitu saya tanya dimana saja orang Tiongkok di Jakarta karena saya perlu datanya untuk diawasi," ungkap Anies.

Menurut Anies, antisipasi dini itu bukan tanpa sebab. Hal itu lantaran Jakarta merupakan satu dari gerbang dunia.

Di mana Jakarta bukan hanya terhubung dengan Indonesia tapi juga terhubung dengan negara-negara lainnya di dunia.

Ia meyakini Ibu Kota ini akan menjadi pintu masuk virus Covid-19 ke Indonesia. Bahkan sejak awal Januari, DKI Jakarta sudah memiliki data pasien dalam pengawasan (PDP) dan orang dalam pengawasan (ODP).

Dinas Kesehatan saat itu sudah diwajibkan mengirimkan data-data ODP dan PDP yang didapat dari laporan Tim Pora.

Dinas Kesehatan DKI Jakarta juga sudah membuat briefing dengan seluruh rumah sakit di Jakarta untuk melaporkan pasien yang memiliki gejala Covid-19.

"Semua itu sudah dilakukan Jakarta bahkan sebelum nama Covid-19 lumrah dipakai. Saat itu namanya masih Pnemunia Wuhan," ungkap Anies.

Pemprov DKI Jakarta sudah siap dengan tim gugus Covid-19 ketika Presiden Joko Widodo (Jokowi) umumkan kasus satu dan dua di Depok, Jawa Barat.

Bahkan Jakarta juga sudah bersiap untuk kemungkinan terburuk yakni isolasi. Anies mengaku saat itu ia sudah belajar dari negara-negara yang terlebih dahulu terserang wabah Virus Corona seperti Italia, Iran dan Korea Selatan.

Satu-satunya cara untuk memperkecil jumlah penularan ialah dengan memaksa masyarakat untuk kurangi kegiatan di luar rumah.

Itulah sebabnya, Jakarta sebagai kota pertama yang menerapkan kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) untuk menimimalisir penularan virus.

"Kami sampai buat simulasi pergerakan mana yang paling berisiko dan berapa jumlah pasien yang muncul karena ini tanggung jawab saya dan kita yang punya Jakarta," ujar Anies.  (Warta Kota/Domu D. Ambarita/faf/jos/m24)

Artikel ini telah tayang di Wartakotalive dengan judul BREAKING NEWS: Anies Baswedan Sebut Kematian di Jakarta sudah 987 Orang, Ingatkan Warga Tak Mudik

Editor: Astini Mega Sari
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved