Breaking News:

Virus Corona

Pakar Epidemiologi Tanggapi soal Kemungkinan Mal Dibuka saat New Normal: Harus Ada Aturannya

Wacana new normal atau kenormalan baru dengan maksud membuka ragam sarana publik semakin marak diperbincangkan di tengah kian meluasnya pandemi Corona

Editor: Roifah Dzatu Azmah
CATHERINE LAI / AFP
ILUSTASI pusat pebelanjaan - Warga memborong bahan makan di sebuah supermarket di Singapura karena khawatir terjadi kelangkaan setelah Malaysia mengumumkan penutupan perbatasan untuk mengatasi Virus Corona, 17 Maret 2020. 

TRIBUNPAPUA.COM - Wacana new normal atau kenormalan baru dengan maksud membuka ragam sarana publik semakin marak diperbincangkan di tengah kian meluasnya pandemi Virus Corona.

Sebelum fase ini semakin gencar akan dimulai pada awal Juni mendatang, muncul sejumlah video viral yang menunjukkan masyarakat ramai berbondong-bondong memenuhi ruang publik seperti mal di Ciledug Tangerang saat dibuka.

Lalu, bagaimana prediksi kondisi tersebut ketika banyak mal benar-benar akan buka saat new normal diberlakukan?

Menurut Pakar Epidemiologi Universitas Indonesia, Pandu Riono, memang perlu ada intervensi yang tegas pada implementasi peraturan kondisi new normal yang dirancang diberbagai sektor sarana publik termasuk di mal.

Ketika Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) memenuhi persyaratan untuk dilonggarkan dan ruang publik termasuk mal bisa dibuka, pemerintah dan masyarakat tetap harus mematuhi aturan yang berlaku sesuai dengan tujuan protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

Ada Lonjakan Kasus Corona di Jatim, Pakar: Bisa Jadi karena Pengujian Lebih Banyak dari Daerah Lain

"Harus ada aturannya di mall tersebut," kaya Pandu kepada Kompas.com, Rabu (27/5/2020).

Nantinya, jika aturan sudah dibuat dan kondisi di mall tersebut tidak memenuhi standar atau tidak menjaga sesuai protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

Serta, tiba-tiba terdapat laporan peningkatan kasus Covid-19 di mal tersebut, entah di antara pengunjung atau penjaga toko. Maka, bisa jadi mal itu akan kembali ditutup.

Menurut dia, pelaku bisnis juga harusnya tidak akan mau jika terjadi penutupan bisnisnya kembali, hanya karena tidak patuh aturan yang berlaku selama pandemi Virus Corona belum berakhir.

"Saya kira mereka (pelaku bisnis) malah akan lebih patuh daripada masyarakat, karena ada konsekuensinya. Ya, konsekuensinya akan ditutup lagi," tuturnya.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved