Breaking News:

Virus Corona

Minta Pemerintah Tak Buru-buru Terapkan New Normal, Peneliti: Belum Ada Tanda Penurunan Kasus Corona

Dia berharap bahwa pemerintah tidak terlalu terburu-buru mengimplementasikan new normal pada bulan Juli mendatang.

Editor: Astini Mega Sari
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
ILUSTRASI - Warga menerapkan physical distancing antre untuk belanja kebutuhan pokok di supermarket Tiptop, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Jumat (22/5/2020). Penerapan physical distancing dilakukan pengelola supermarket bagi warga yang berbelanja kebutuhan pokok jelang Lebaran untuk menghindari penyebaran dan penularan COVID-19. 

TRIBUNPAPUA.COM - Istilah herd immunity tengah menjadi perbincangan hingga kontroversi di masyarakat sejak adanya wacana new normal di tengah pandemi Covid-19.

Meski dinilai bisa menghambat penyebaran virus, namun strategi herd immunity disebut dapat memakan korban dalam jumlah besar.

Dosen sekaligus peneliti virus Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) Mohamad Saifudin Hakim menjelaskan, untuk mencapai kekebalan kelompok tersebut, sebagian besar populasi harus memiliki kekebalan terhadap suatu penyakit.

"Virus itu kan butuh inang untuk mempertahankan siklus hidupnya. Dan saat individu dalam populasi kebal terhadap virus tersebut, maka virus tidak bisa lagi menemukan inang untuk hidup," paparnya, Kamis (4/6/2020) seperti dilansir dari laman UGM.

 

Hakim menyebutkan terdapat dua cara untuk menciptakan kekebalan kelompok ini.

Pertama, secara artifisial melalui tindakan vaksinasi yang terbukti aman.

"Sayangnya, untuk kondisi sekarang ini, vaksin masih agak jauh tahap pengembangannya untuk bisa secara efektif mengatasi Covid-19," terang dosen Departemen Mikrobiologi FKKMK UGM ini.

Anies Sebut Warga Jakarta yang Keluar Rumah Tak Pakai Masker Bakal Didenda Rp 250 Ribu

Kedua, secara alamiah dengan infeksi alami.

Kekebalan kelompok ini didapat ketika seseorang terinfeksi penyakit secara alami.

Selanjutnya, tubuh akan merespons dengan membentuk kekebalan ketika berhasil sembuh dari infeksi tersebut.

Herd immunity dengan infeksi secara alami, menurut pria yang meraih gelar doktor di bidang virologi dan imunologi dari Erasmus University Medical Center, Rotterdam, Belanda itu, sangatlah berisiko.

Tidak hanya menyebabkan terjadinya sakit atau penyakit, tetapi individu yang terkena infeksi alami juga berpotensi menjadi agen penularan.

 

Kondisi tersebut akan semakin memakan banyak korban jiwa.

Itulah mengapa, Saifudin mengatakan masyarakat tidak boleh dibiarkan bebas begitu saja seperti kondisi sebelum ada wabah.

Jangan terburu-buru terapkan new normal

Wacana pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan penerapan new normal di Indonesia kerap dipahami sebagian masyarakat sebagai strategi herd immunity secara bebas dan tidak terkontrol.

Saifudin menilai, anggapan tersebut sebenarnya salah kaprah.

Menurutnya, new normal yang dimaksudkan bukan berarti pemerintah membiarkan masyarakat beraktivitas layaknya tidak ada wabah.

Berbahayakah Penggunaan Masker saat Olahraga? Ini Penjelasan Dokter

Konsep new normal yang dibentuk pemerintah adalah masyarakat mulai kembali menjalankan aktivitas secara biasa, tetapi tetap menerapkan protokol kesehatan.

Seperti mencuci tangan dengan sabun, memakai masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan, serta menerapkan pola hidup bersih dan sehat dengan usaha tetap mengendalikan penyebaran infeksi.

"Di era new normal, pemerintah memang tidak menerapkan herd immunity tanpa kontrol, tetapi dengan pembatasan sosial yang sedikit dibuka disertai dengan kampanye perubahan perilaku. Kendati begitu, langkah ini tetap berimplikasi pada terbentuknya herd immunity, meskipun dalam jangka yang panjang," paparnya.

 

Namun, menurut Saifudin langkah tersebut dianggap masih berisiko gagal.

Pasalnya, hingga kini belum ada data dan bukti yang valid bagaimana kekebalan terhadap SARS-CoV-2 terbentuk setelah infeksi alami.

Beberapa studi melaporkan bahwa kekebalan terhadap virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 hanya baru muncul pada 10 persen dari total seluruh individu yang terinfeksi.

Dengan demikian, seharusnya protokol yang lebih ditekankan oleh pemerintah adalah langkah-langkah mencegah persebaran wabah.

Dia berharap bahwa pemerintah tidak terlalu terburu-buru mengimplementasikan new normal pada bulan Juli mendatang.

Update Virus Corona di Indonesia 4 Juni: 28.818 Kasus Positif, 8.892 Sembuh, 1.721 Meninggal

Pemerintah diharapkan bisa mengkaji ulang rencana tersebut.

Sebab, tren nasional jumlah kasus positif Covid-19 di tanah air masih cenderung bertambah di berbagai daerah.

"Tren nasional tetap naik dan belum ada tanda penurunan signifikan secara konsisten. Semestinya new normal diterapkan setelah kurva melandai atau ada penurunan jumlah kasus secara signifikan yang konsisten," imbuhnya.

Jadi, lanjut dia, kalau new normal dijalankan bulan Juli maka pemerintah harus siap kalau ada pertambahan kasus baru lagi. (Kompas.com/Ayunda Pininta Kasih)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Peneliti UGM Berharap Pemerintah Tak Buru-buru Terapkan New Normal Bulan Juli"

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved