Virus Corona di Papua

Fasilitas Minim, Ini Cara Papua dan Papua Barat Tekan Corona, Tutup Akses hingga Ubah Sistem Sekolah

Jumlah dokter yang bertugas ada 1077 dokter dengan rincian hanya 7 spesialis paru, 32 spesialis penyakit dalam, dan 23 spesialis anestesi.

(Humas Papua)
ASN di lingkungan Pemprov Papua menjalani rapid tes. 

TRIBUNPAPUA.COM - Provinsi Papua dan Papua Barat terus menekan penyebaran Virus Corona dengan berbagai kebijakan strategi walaupun minim fasilitas kesehatannya.

Menurut Muhammad Musaad, Asskeda II Papua, salah satu kebijakan strategis adalah mereka lah yang pertama kali menutup akses masus manusia dari luar wilayah.

“Kita kan provinsi yang pertama menutup pintu masuk pelabuhan laut maupun di airport bagi pergerakan orang dari luar Papua, maupun antar kabupaten di Papua. Karena kita sadar, bahwa kalau kita tidak melakukan tindakan preventif yang cepat, maka mungkin saja ini akan semakin meluas,” kata Musaad dilansir dari VOA Indonesia.

Musaad berbicara dalam diskusi daring Arah Baru Kebijakan Pembangunan Papua Memasuki Era Normal Baru, Selasa 9 Juni 2020.

Diskusi ini diselenggarakan Gugus Tugas Papua, Universitas Gadjah Mada.

Yang hadir sebagai pembicara dalam acara itu adalah sejumlah pemimpin daerah di Papua, akademisi dan wakil pemerintah.

Geram, Keluarga Pria yang Hasil Rapid Testnya Hamil: Jangan Main-main dengan Covid-19

Minim fasilitas kesehatan

Musaad mengatakan, Pemerintah Papua sadar jika mereka minim fasilitas kesehatan.

Saat ini hanya ada 202 ruang isolasi di seluruh Papua dengan total 4.275 tenpat tidur yang tersebar di seluruh rumah sakit.

Sementara jumlah dokter yang bertugas ada 1077 dokter dengan rincian hanya 7 spesialis paru, 32 spesialis penyakit dalam, dan 23 spesialis anestesi.

Halaman
1234
Editor: Roifah Dzatu Azmah
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved