Soal Eksodus Mahasiswa Papua, Akademisi UNCEN Ungkap Hal yang Menurutnya Masih Jadi Masalah

Akademisi UNCEN, Jayapura, Dr. J. Mansoben menanggapi soal eksodus mahasiswa Papua dari tempat studinya pada tahun 2019 lalu.

Tribunnews/Irwan Rismawan
ILUSTRASI MAHASISWA PAPUA - Sejumlah mahasiswa dari Aliansi Anti Rasisme, Kapitalisme, Kolonialisme, dan Militerisme Papua melakukan aksi unjuk rasa di depan Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Kamis (22/8/2019). Aksi tersebut sebagai bentuk kecaman atas insiden di Surabaya dan menegaskan masyarakat Papua merupakan manusia yang merdeka. 

TRIBUNPAPUA.COM - Akademisi Universitas Cenderawasih (UNCEN), Jayapura, Dr. J. Mansoben menanggapi soal eksodus mahasiswa Papua dari tempat studinya pada tahun 2019 lalu.

Eksodus tersebut adalah buntut insiden rasisme di asrama mahasiswa Papua di Surabaya pada Agustus 2019.

Mansoben menyampaikan tanggapannya dalam Webinar KompasTV bertajuk "Kepemimpinan Papua dalam Membangun Indonesia" yang tayang secara live di kanal YouTube KompasTV, Selasa (30/6/2020).

Ia menyebut eksodus mahasiswa Papua adalah masalah yang sifatnya sementara.

"Masalah ini sifatnya sementara. Mahasiswa Papua di luar negeri dapat perlakuan yang beda dengan mahasiswa Papua yang kuliah di Indonesia. Mereka sama-sama dapat bantua tapi kondisi di Indonesia kadang-kadang lingkungannya itu tidak mendukung," ucap Mansoben, seperti dikutip TribunPapua.com.

Pilih Bermain di Liga Thailand, Rudolf Yanto Basna: Mimpi Saya Bisa Jadi Jembatan bagi Anak Papua

Menurutnya, ada satu hal yang masih menjadi masalah bagi mahasiswa Papua.

"Banyak orang Indonesia menganggap Papua bukan bagian dari mereka padahal kita selalu meyakinkan orang Papua bahwa mereka bagian dari Indonesia. Ini yang saya pikir jadi masalah," kata Mansoben.

"Bagaimana kita mengatasi gap itu dan membuat orang Papua merasa dirinya Indonesia dan orang Indonesia menganggap orang Papua bagian dari mereka."

Ia mengatakan, cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan mengajak orang Papua utuk berkarya di berbagai bidang, tak hanya di Indonesia tapi juga di Papua.

Lebih lanjut, Mansoben menuturkan bahwa lingkungan yang kondusif tanpa adanya rasisme akan sangat berpengaruh pada bagaimana orang Papua bisa menunjukkan potensi dan prestasi mereka.

Virus Corona di Papua: Potensi Adanya Gelombang Kedua di Tengah Stigma Penyakit Kutukan Tuhan

(TribunPapua.com)

Penulis: Astini Mega Sari
Editor: mohamad yoenus
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved