Breaking News:

Papua Barat Belum Ada Tes GeNose, Gugus Tugas Covid-19 Lakukan Pendataan Penumpang dari Luar Wilayah

Arus balik mudik pasca-lebaran Idul Fitri tahun 2021 menjadi kekhawatiran baru di Papua Barat.

Penulis: Safwan Ashari Raharu
Editor: Roifah Dzatu Azmah
(Tribun-Papua.com/Safwan Ashari Raharusun)
Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Papua Barat, dr. Arnold Tiniap. 

Laporan Wartawan Tribun-Papua, Safwan Ashari Raharusun

TRIBUN-PAPUA.COM - Arus balik mudik pasca-lebaran Idul Fitri tahun 2021 menjadi kekhawatiran baru di Papua Barat.

Pasalnya, hingga kini Provinsi Papua Barat belum memiliki alat pemeriksaan berupa GeNose C-19 (alat deteksi virus).

"Jadi itu merupakan kekhawatiran yang sedang kita pikirkan," ujar Juru Bicara (Jubir) Gugus Tugas Covid-19, dr. Arnold Tiniap, kepada Tribun-Papua.com, Selasa (18/5/2021)

"Ditempat lain (Pelabuhan dan Bandara) melakukan pemeriksaan saat ini telah menggunakan GeNose, tetapi kita di Papua Barat seluruhnya belum ada."

Baca juga: Larangan Mudik Berakhir, Lion Air Group Kembali Beroperasi di Bandara Rendani Manokwari

Biasanya, para pelaku perjalanan dilakukan pengecekan dengan menggunakan GeNose.

"Kalau ada indikasi Virus Covid-19 maka akan dilakukan pemeriksaan lanjutan oleh petugas," ucapnya.

Lebih lanjut, kata Arnold jika Rapid dan GeNose pun terbatas, maka jalan satu-satunya adalah melakukan pendataan.

"Kalau memang terbatas maka langkah selanjutnya adalah mendata setiap penumpang dari luar Papua Barat, sehingga ketika ada gejala langsung petugas bisa mengambil tindakan," tuturnya.

"Sebenarnya mereka yang baru kembali dari luar harus dikarantina (isolasi) agar dipisahkan di masyarakat," imbuhnya.

Sebelumnya, pada Senin (17/5/2021) Arnold Tiniap menyebutkan pihaknya sedang mengantisipasi arus balik pasca mudik lebaran idul fitri tahun 2021.

Pasalnya, saat ini telah terdeteksi ada 3 varian Covid-19 yang baru seperti B117 Inggris, B1617 India dan Afrika, disejumlah wilayah di Indonesia.

"Kalau setiap hari hanya 10 orang rumah sakit masih siap tapi kalau deteksi dengan jumlah yang besar misalnya 100 maka kita bisa lumpuh," ujar Arnold, kepada sejumlah awak media.

Apalagi, lanjut dia jika dari 100 orang yang terdeteksi itu mempunyai gejala berat pasti akan butuh oksigen.

"Dengan gejala berat namun sudah transit di masyarakat. Akan sama seperti yang terjadi di India," ucapnya.

"Kalau masyarakat tidak mengantisipasi itu kemudian ada lonjakan kasus dengan jumlah yang besar berarti kita semua pasti akan kewalahan." (*)

Berita lain tentang Covid-19 Papua Barat

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved