KESEHATAN

Hampir Punah, Pisang Raksasa di Papua Barat Jadi Obat Malaria bagi Masyarakat Adat

Pisang raksasa merupakan tumbuhan endemik Papua. Pisang Raksasa tersebut hanya ada di Kampung Kwau, Kabupaten Manokwari, Papua Barat.

Penulis: Safwan Ashari Raharu | Editor: Roy Ratumakin
Tribun-Papua.com/Safwan Ashari Raharusun
PISANG RAKSASA - Saat Hans Mandacan (36), warga Kampung Kwau, Distrik Warmare, Kabupaten Manokwari berpose di dekat Pisang Raksasa. 

Laporan Wartawan TribunPapuaBarat.com, Safwan Ashari Raharusun

TRIBUN-PAPUA.COM, MANOKWARI - Pelepah Pisang Raksasa di Kampung Kwau, Distrik Warmare, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, dipercaya dapat menyembuhkan penyakit Malaria.

Hans Mandacan (36), warga Kampung Kwau, mengatakan tradisi pengobatan Malaria sudah ada sejak nenek moyang.

"Awalnya ada orang yang punya pengetahuan tentang obat-obatan, namun tidak menempuh pendidikan khusus," kata Mandacan, kepada TribunPapuaBarat.com, Rabu (23/6/2021).

Baca juga: Update Virus Corona di Papua dan Papua Barat Rabu 23 Juni 2021: Total Kasus hingga 30.569

Ia menjelaskan, mereka menemukan ada indikasi Malaria, maka langsung diobati dengan ramuan tradisional.

"Biasanya mereka gunakan kandungan air pada pelepah pisang raksasa, dan diberikan ke masyarakat yang sedang sakit Malaria," tuturnya.

"Sudah sejak lama orang tua kami menjadikan air pelepah pisang raksasa sebagai obat tradisional (traditional medical)," jelas Mandacan.

Pria asal Pegunungan Arfak ini, menurunkan, penggunaan obat tradisional dari pisang raksasa ada dua cara.

"Ketika sakit, maka kita harus meminum dan mandi dari air yang terkandung dalam pelepah pisang raksasa," jelas Mandacan.

Untuk satu pohon, kata Mandacan, masyarakat biasanya mengambil pelepah pisang raksasa bisa lebih dari 10 kali.

Selain itu, Mandacan juga mengaku, tinggi pohon pisang raksasa bisa mencapai 25 meter, dan dua kali pelukan orang dewasa untuk besaran batang pohon pisang tersebut.

Terancam Punah

Kata Mandacan, pisang raksasa merupakan tumbuhan endemik Papua.

Pasalnya, tumbuhan ini hanya ada di Kwau, perbatasan antara Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Pegunungan Arfak, Papua Barat.

"Saya sebagai anak Adat Arfak, juga sadar bahwa tumbuhan ini memang langkah dan hampir punah," ujarnya.

Sebagai generasi penerus, dirinya berkewajiban untuk tetap melestarikan tumbuhan tersebut. (*)

Sumber: Tribun Papua
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved