Senin, 25 Mei 2026

Otsus papua

Tokoh Muslim Papua Minta Pengawasan Dana Otsus Diperketat

Pemerintah Daerah diminta lebih bersinergi bersama Pemerintah Pusat, sehingga dapat mewujudkan kedamaian serta keamanan di tanah Papua.

Tayang:
Tribun-Papua.com/Nandi Tio G Effendy
Tokoh Muslim papua yang juga Ketua Umum Masjid Raya Baiturrahim Jayapura KH Kahar Yelipele. 

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA – Tokoh Muslim Papua KH Abdul Kahar Yelipele mendukung UU Otonomi Khusus (Otsus) Papua yang baru disahkan oleh pusat.

Hanya, ia meminta agar pengawasan penggunaan Dana Otsus Papua lebih diperketat.

Sehingga tidak ada celah bagi para oknum menggerogoti dana khusus yang diperuntukkan bagi empat aspek dalam memajukan masyarakat Papua.

“Jangan sampai ada kejadian masyarakat tipu masyarakat, ini yang harus kita jaga,” ujar Yelipele kepada Tribun-Papua.com di Jayapura, Rabu (21/7/2021).

Dia berpesan kepada Pemerintah Daerah harus lebih bersinergi bersama Pemerintah Pusat, sehingga dapat mewujudkan kedamaian serta keamanan di tanah Papua.

Baca juga: Tokoh Muslim Papua Ajak Masyarakat Syukuri Kelanjutan UU Otonomi Khusus

Baca juga: Penetapan UU Otsus Papua Dinilai Hanya Untuk Kepentingan Jakarta

Menurut Yelipele, hadirnya Otsus Papua sangat terasa dalam pembangunan di seluruh aspek khususnya perkampungan.

Ia memandang masyarakat Papua sudah merasakan adanya perubahan selama 20 tahun terakhir, selama Otsus bergulir.

“Saya menyampaikan ini karena saya yang melihat dan merasakan di daerah Lapago Kabupaten Jayawijaya,” ujar putra asli Wamena.

Meski begitu, Yelipele berharap kepada pemerintah agar lebih meningkatkan pengawasaan Dana Otsus ke depan.

Mulai penggunaannya, peruntukan, serta pertanggungjawabannya, sehingga manfaatnya langsung dirasakan masyarakat.

“Saya menekan harapan pada kami sebagai orang Papua di daerah pegunungan agar jangan mengadu domba serta terprovokasi oleh kepentingan elit politik,” ujuar Ketua Masjid Raya Baiturrahim Papua.

Kepada para pelajar dari Kabupaten Jayawijaya dan sekitarnya di berbagai kota studi luar Papua, Yelipele berpesan untuk lebih fokus kuliah hingga lulus, lalu pulang membangun kampung halamannya.

“Dulu kami memang pakai koteka, sekarang kami sudah pakai pakaian rapi, waktu itu kita tidak bisa membaca namun saat ini sudah bisa. Inilah arti kemerdakaan sesungguhnya,” pungkas Yelipele.

Baginya, kemerdekaan bukanlah ditempuh lewat cara kekerasan serta perang suku yang marak terjadi hingga hari ini.

Menurutnya, warga Lapago pada jaman dahulu umumnya berjualan dari pagi hingga malam hanya mengumpulkan uang Rp 10 Ribu. Namun kini telah mampu mengelola uang milyaran rupiah.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved