Breaking News:

HUT ke76 RI

Kisah Fatmawati saat Menjahit Sang Saka Merah Putih: 'Saya Menumpahkan Air Mata di Atas Bendera'

Fatmawati meninggal usia 57 tahun di Kuala Lumpur, ketika dalam perjalanan pulang dari ibadah umrah pada 1980 akibat serangan jantung.

Tribun-Papua.com/Istimewa
Kisah Fatmawati Menangis saat Jahit Bendera Saka Merah Putih. Tumpahkan air mata di atas bendera. 

TRIBUN-PAPUA.COM - Jasa Fatmawati Soekarno, istri Bung Karno tak bisa dilepaskan dari perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia 1945. 

Ibu Negara pertama RI itu menjahit sang saka Merah Putih untuk digunakan dalam upacara Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945.

Meski dalam kondisi yang kurang baik, dan dilarang dokter untuk beraktivitas lebih, Fatmawati tetap gigih menjahit Sang Saka Merah Putih.

Pada 17 Agustus 2021, bendera Merah Putih berkibar di seluruh penjuru negeri untuk perayaan HUT ke-76.

Baca juga: Markas Goliath Tabuni di Puncak Jaya Digerebek, Satu Pucuk Senjata M16 Disita

Baca juga: 10 Daerah di Papua Tercatat Nol Kasus Harian Covid-19

Adalah Fatmawati, istri Presiden Soekarno, sosok di balik bendera Merah Putih yang berkibar saat proklamasi kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945.

Mari mengenal sosok Ibu Fatmawati dan kisahnya menjahit Sang Saka Merah Putih.

Fatmawati dilahirkan pada 5 Februari 1923 di Bengkulu.

Ketika ia lahir, ada dua nama yang akan diberikan kepadanya, yaitu Fatimah yang berarti bunga teratai dan Siti Djabaidah, yang diambil dari nama salah satu istri Nabi Muhammad SAW.

Kedua nama itu ditulis pada dua carik kertas kemudian digulung dan diundi.

Pilihan pun jatuh kepada nama Fatimah, nama yang kita kenal sampai saat ini.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved