Breaking News:

PON XX Papua

Enrico Yori Kondologit: Tampilkan Tarian Kolosal di PON XX 2021, Perkenalkan Setiap Suku di Papua

Enrico Yori Kondologit (40) menjelaskan, tarian kolosal ini biasa digunakan dalam event atau dipertandingkan.

Penulis: Patricia Laura Bonyadone | Editor: Roy Ratumakin
Tribun-Papua.com/Tirza Boyandone
Koordinator Pameran dan Pementasan Bidang Sosial Budaya, Pekan Olahraga Nasional Enrico Yori Kondologit. 

Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Tirza Bonyadone

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Dalam rangkah pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua, Panitia Besar (PB) PON Bidang Sosial Budaya akan menampilkan tarian kolosal, yang secara langsung memperkenalkan setiap suku di Papua.

Ini merupakan tarian kreasi, membentuk beberapa tarian dari beberapa suku untuk ditampilkan, dan durasinya bisa diatur serta gerakannya bisa diubah.

Koordinator Pameran dan Pementasan Bidang Sosial Budaya, Pekan Olahraga Nasional Enrico Yori Kondologit (40) menjelaskan, tarian kolosal ini biasa digunakan dalam event atau dipertandingkan.

Baca juga: Bukan Hanya Cenderawasih, Kasuari Juga Dilarang Digunakan Untuk Cenderamata PON XX Papua

"Anak-anak relawan untuk kolosal ini, kita mencoba untuk mengabungkan beberapa jenis tarian atau gerak dasar suku-suku di Papua mulai dari Asmat, Saereri Tabi hingga Kepala Burung," jelasnya kepada Tribun-Papua.com, Rabu (8/9/2021).

Nantinya tarian ini akan menggunakan durasi pendek dengan jumlah yang banyak, guna menatrik perhatian masyarakat yang menonton.

Yori sapaan akrabnya juga menjelaskan, di Papua terkenal dengan dua jenis tarian yakni tarian tradisi dan tarian kreasi Papua, yang sedang digunakan oleh Bidang Sosial Budaya.

"Secara koreografi tarian tradisi dan tarian kreasi pun berbeda ya, kalau kolosa inikan kami gabungkan dari beberapa suku, tapi kalau tradisi tidak boleh. Sehingga kami memang menampilkan kolosa pada ajang nasional ini," ujar pria berdarah Sorong ini.

Baca juga: Muhadjir Effendi: Usai PON XX, Rusun Atlet akan Dihibahkan Kepada GKI Sinode

Untuk tarian tradisi sendiri, merupakan tarian yang murni lahir dari masyarakat adat. Tarian ini tergolong sakral, yang tak bisa ditampilkan di sembarang tempat.

"Tarian ondoafi atau kepala suku hingga tarian kematian, ini memang dikhususkan sehingga beda penempatan dan maknanya,' jelasnya.

Hal ini menurutnya menjadi pembeda dan pembelajaran bahwa, di Papua meskipun beberapa kelompok tarian, namun harus memperhatikan maknanya.

Tidak hanya tarian kolosal, namun tarian penyambutan untuk tamu pada saat pelaksanaan PON XX nantinya juga dipersiapkan.

"Harapannya tetap kepada tarian yang kita tunjukan dan tampilkan ini, bisa menjadi nilai dan kesan tersendiri, maknanya pun didapattkan," ucapnya. (*)

Sumber: Tribun Papua
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved