Breaking News:

KPK Dikorupsi

Eks Penyidik KPK Stepanus Robin Transaksi Suap di Safe House Sejak Juli 2020

Eks penyidik KPK Ajun Komisaris Polisi Stepanus Robin Pattuju mencari lokasi safe house untuk melancarkan transaksinya. Suap dimulai sejak Juli 2020.

Editor: Paul Manahara Tambunan
Tribun-Papua.com/Tribunnews.com
Tersangka AKP Stepanus Robin Pattuju berjalan usai sidang putusan Majelis Etik Dewas KPK di Gedung Pusat Edukasi Antikorupsi KPK, Jakarta, Senin (31/5/2021). Pembacaan putusan oleh Majelis Etik Dewan Pengawas KPK terkait sidang pelanggaran kode etik penyidik KPK dari Polri AKP Stepanus Robin Pattuju dinyatakan bersalah dan dipecat. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 

TRIBUN-PAPUA.COM - Jaksa penuntut umum (JPU) pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkapkan bahwa eks penyidik KPK Stepanus Robin Pattuju mencari lokasi safe house untuk melancarkan transaksi suapnya.

"Terdakwa juga mencari lokasi (safe house) guna tempat bertemu terdakwa dengan Maskur Husain dan pihak lain untuk melakukan serah-terima uang," bunyi dakwaan Robin sebagaimana dibacakan jaksa di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (13/9/2021).

Selain diterima secara langsung, ajun komisaris polisi (AKP) Robin juga menerima uang melalui rekening.

Penerimaan suap itu disebut terjadi sejak Juli 2020 hingga April 2021.

Menurut jaksa KPK, uang suap diterima AKP Robin melalui rekening Riefka Amalia, yang merupakan adik dari teman wanita Robin.

Baca juga: Satu TNI Ditembak KKB Papua di Pegunungan Bintang, Kapendam XVII: Saya Masih Cari Informasi

Baca juga: Harun Masiku Disebut Ada di Indonesia pada Agustus, Keseriusan KPK Ditunggu

"Bahwa pada tanggal 2 Juli 2020, Riefka Amalia (adik dari teman wanita terdakwa) membuka rekening tabungan BCA atas permintaan dan demi kepentingan terdakwa atas nama Riefka Amalia. Kartu ATM rekening tersebut dipegang terdakwa," tutur jaksa.

JPU KPK mendakwa Robin bersama-sama advokat Maskur Husain menerima uang suap Rp11.025.077.000 dan 36 ribu dolar AS dari lima pihak beperkara di KPK.

Baca juga: Lukas Enembe: PON XX Adalah Harga Diri Orang Papua 

"Terdakwa selaku penyelenggara negara, yakni penyidik KPK, bersama-sama dengan Maskur Husain telah melakukan atau turut serta melakukan beberapa perbuatan yang harus dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri sehingga merupakan beberapa kejahatan, yang diancam dengan pidana pokok yang sejenis, menerima hadiah atau janji berupa uang dengan jumlah keseluruhan Rp11.025.077.000 dan 36.000 dolar AS," kata jaksa.

Berikut rincian uang yang diterima Robin bersama dengan Maskur Husain:

1. Dari Wali Kota Tanjungbalai Muhamad Syahrial sejumlah Rp1.695.000.000;

Halaman
12
Sumber: Tribun Papua
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved