PON XX Papua

Sempat Berpindah Tiga Kali, Kini Venue Paralayang di Kota Jayapura Terindah di Papua

Venue paralayang  berada di ketinggian 320 meter dari permukaan laut, dan memiliki pemandangan Teluk Yos Sudarso dan Teluk Youtefa yang indah.

Tribun-Papua.com/Hendrik Rewapatara
Suasana venue terbang layang di kampung Buton Entrop, Distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura. 

Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Hendrik R Rewapatara

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Arena paralayang Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua dibangun di Bukit Kampung Buton, Entrop, Distrik Jayapura Selatan Kota Jayapura. 

Sebelumnya, arena paralayang itu sempat berpindah lokasi tiga kali.

Ketua Panitia pelaksana cabor paralayang PON XX, AKBP Tonny Ananda mengatakan, awalnya di bukit Teletabis, namun di sana anginya tidak menentu.

Baca juga: Supersemar, Pembuka Jalan Soeharto Lengserkan Soekarno dari Kursi Presiden

"Kadang angin barat dan kadang juga angin timur. Kalau angin barat bisa bermain, tapi sangat disayangkan di sana tempat putaran pesawat menjelang landing, akhirnya kita tidak memakai Teletabis," kata AKBP Tonny Ananda kepada Awak media, Senin (11/10/2021) di Entrop, Kota Jayapura.

Tonny menuturkan, venue tersebut sempat dialihkan ke MacArthur namun masih tidak sesuai karena merupakan tempat perputaran pesawat sebelum landing.

Baca juga: 6 Provinsi di Kawasan Timur Akan Wakili Indonesia di Ajang Pacific Exposition 2021 

"Di samping itu, ada sutet sekitar 75 ribu KPA  itu sangat riskan untuk dijadikan permainan paralayang. Kemudian kita alihkan lagi ke Bumi Perkemahan (Buper Waena)," ujarnya.

Namun di Buper pun belum bisa dijadikan venue paralayang karena tempatnya pendek dan angin yang tidak menentu.

"Sangat di sayangkan juga masyarakat disekitar Buper tidak mendukung, artinya tidak welcome menerima kami," ungkapnya.

Baca juga: Lifter Jabar Susi Susanti Sabet Emas Angkat Berat Kelas 52 Kg PON: Pecahkan Rekor Asia 

Kemudian tempat yang terakhir yakni, bukit Kampung Buton Entrop.

"Venue take off paralayang ini diberi nama bukit Garcia, yang artinya bukit yang diberkati," jelasnya.

Sekedar diketahui, persiapan venue paralayang ini selama enam bulan.

"Puji tuhan kami dibantu oleh rekan-rekan komunitas dan juga rekan-rekan di Umum juga membantu membangun bukit Garcia ini," jelasnya.

Venue paralayang  berada di ketinggian 320 meter dari permukaan laut, dan memiliki pemandangan Teluk Yos Sudarso dan Teluk Youtefa yang indah.

"Harus diketahui, venue terindah dan terbaik yakni bukit garcia. Dan juga venue ini berada di tengah kota," jelasnya. (*)

Sumber: Tribun Papua
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved