Sosok

Maria Maniani Menggantungkan Hidup Keluarga Dengan Berjualan Sagu dan Suvenir

Kedua tangan mama Maria Maniani dengan cekatan merapihkan buah tangan yang di dagangkan di depan Kantor Majelis Rakyat Papua (MRP).

Penulis: Musa Abubar | Editor: Roy Ratumakin
Tribun-Papua.com/Musa Abubar
Mama maria sedang memakai manik-manik lebar yang biasanya dipakai untuk membayar maskawin di Ambai. 

Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Musa Abubar

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Kedua tangan mama Maria Maniani dengan cekatan merapihkan buah tangan yang di dagangkan di depan Kantor Majelis Rakyat Papua (MRP).

Mama Maria termasuk salah satu dari ratusan mama-mama Papua yang menjual hasil karyanya di halaman kantor itu.

Ratusan mama-mama itu diundang untuk ikut memeriahkan peringatan hari ulang tahun budaya ke 16  bersamaan dengan ulang tahun MRP usianya juga sama yakni 16 tahun.

Baca juga: Bonus Atlet Papua Rp 1 Miliar Diabayarkan Usai Peparnas

HUT hari budaya dan MRP itu jatuh pada 30 Oktober namun perayaan-perayaan menyambut ulang tahun lebih dahulu dilakukan pada, Rabu (27/10/2021) dan berakhir Senin (1/11/2021).

Salah satu perayaan yang dilakukan untuk menyambut HUT yaitu pameran hasil karya mama-mama Papua yang didominasi noken dan beragam sovenir lainnya.

Malam itu, Jumat (29/10/2021) jarum jam sudah berada di angka enam, hari sudah gelap, pameran ditutup, mama Maria cepat-cepat mengemas sovenir yang dijual.

Dalam keadaan menyimpan, Tribun-Papua.com mengajaknya cerita. Perempuan berkulit hitam manis itu spontan menjawab dengan wajah sumingrah.

"Iya, mama dengar ada pameran disini jadi mama hasil karya saya untuk jual disini sejak kemarin, Kamis (28/10/2021)," kata Mama Maria sembari senyum lebar.

Satu persatu suvenir dijual diisi kedalam karung berukuran kecil sambil bercerita mulai dari jenis suvenir, harganya, hingga aktivitasnya sehari-sehari.

Baca juga: Dua Unit Mobil PCR Disiapkan Dukung Peparnas XVI Papua, Pengidap HIV Bisa Dilayani

Mama Maria menjual beragam suvenir berupa kalung, topi makhota berbahan kulit kayu yang dihiasi bulu ayam, noken anyaman kulit kayu berukuran kecil.

Selanjutnya, anting-anting benang, tempat tisu berbahan papan tripleks yang dasarnya dibubuhi pasir lalu dilem kemudian dihiasai kertas dihiasi kulit bia.

Lalu, racikan manik-manik lebar yang biasanya dipakai untuk membayar maskawin di Ambai, salah satu kampung di Kepulauan Yapen.

Baca juga: MRP Gelar Pameran Budaya, Yoel Mualit: Prihatin Melihat Pengrajin Jualan di Emperan

Harga Suvenir

Halaman
123
Sumber: Tribun Papua
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved