Breaking News:

Match Fixing

Kesehatan Finansial Klub Jadi Penyebab Pengaturan Skor Marak di Sepakbola Indonesia

Koordinator Save Our Soccer, Akmal Marhali menyebut kesehatan finansial klub sepakbola juga menjadi faktor di balik maraknya praktik pengaturan skor.

Editor: Roy Ratumakin
Tribunnews
Koordinator Save Our Soccer, Akmal Marhali. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Lusius Genik

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Koordinator Save Our Soccer, Akmal Marhali menyebut kesehatan finansial klub-klub sepakbola juga menjadi faktor di balik maraknya praktik pengaturan skor yang melibatkan pesepakbola.

Akmal mengatakan, klub sepakbola yang tidak sehat secara finansial lebih rentan terlibat pengaturan skor.

"Klub-klub yang tidak sehat secara finansial, maka sangat rentan tergiur oleh praktik-praktik kotor pengaturan skor di sepakbola," kata Akmal saat berbincang dengan Tribunnews.com, Kamis (18/11/2021).

Baca juga: Akmal Marhali: Masa PSSI Tau Tahu Ada Pengaturan Skor di Sepakbola Indonesia?

Bila klub tidak sehat secara finansial, gaji para pemain kemungkinan bisa tidak dibayarkan sebagaimana mestinya.

Hal ini juga menjadi penyebab mengapa pemain terkadang minta dicarikan bandar untuk melakukan praktik mafia bola, dalam hal ini pengaturan skor.

"Apakah pemain digaji dengan baik? Ini juga jadi problem. Jangan sampai mereka dipaksa fair play di lapangan, sementara apa yang jadi hak mereka tidak dibayarkan. Ini kan problem," tutur Akmal.

Federasi Sepakbola Asia (AFC) sebenarnya telah membuat sebuah regulasi tentang lima aspek untuk mendapatkan lisensi klub profesional, salah satunya menyinggung kesehatan finansial.

Baca juga: Pengamat Sepakbola: Tak Ada Prestasi, Sepakbola Indonesia Gagal

Namun, aturan ini tidak dilakukan di awal-awal kompetisi sepakbola Indonesia berlangsung.

"Kompetisi kita ini kalau menurut saya auto pilot. Ada beberapa klub yang secara keuangan tidak sehat tetap diberikan jalan untuk berkompetisi, yang pada akhirnya di tengah jalan tidak bisa dapat uang, pilihannya adalah tidak gaji pemain," tutur Akmal.

Baca juga: Menpora Amali Turut Soroti Match Fixing di Liga 3: Kalau Terbukti Hukuman Tidak Boleh Ringan

"Kemudian pemain pusing dapur tidak ngebul, lalu ada orang masuk menawarkan jasa mendapatkan uang lewat pengaturan skor. Siapa yang kemudian tidak khilaf dengan keadaan seperti ini? Dengan iming-iming itu semua? Ini juga jadi problem yang dihadapi sepakbola kita," sambung dia.

Menurut Akmal, ada dua kondisi lain yang mendorong klub maupun pemain untuk melakukan pengaturan skor.

"Pengaturan skor terjadi dari klub yang punya krisis keuangan. Kemudian bisa terjadi pada klub yang punya ambisi, punya uang, ingin juara," pungkas Akmal. (*)

Sumber: Tribun Papua
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved