Breaking News:

Verawaty Fajrin Wafat

Verawaty Fajrin Wafat, Berikut Kisah Legenda Badminton Putri Pertama dari Indonesia

VERAWATY FAJRIN berpulang pada Minggu (21/11/2021) pagi, setelah berjuang melawan kanker paru-paru. Berikut kisah perjalanan hidup sang juara dunia.

Tribun-Papua.com/Istimewa
Verawaty Fajrin saat menjadi salah satu pembawa obor Asian Games 2018. (ANTARA/BAYU KUNCAHYO) 

Ajang internasional bagi Verawaty mulai berdatangan sesudah "keisengan-keisengan" itu, termasuk terpilih masuk tim All England 1976.

Dia juga tercatat menjuarai Belanda Terbuka 1977 di nomor ganda, berpasangan dengan Imelda Wigoena. 

Berentet kemudian gelar Denmark Terbuka 1977-1978 dan Asian Games 1978 dia babat, yang semuanya dari nomor ganda bersama Imelda. 

Prestasi Verawaty mencuat pada 1979, dimulai dari Turnamen Badminton Internasional Calgary, di Kanada.

Medali dia dapatkan dari tiga nomor sekaligus, sekalipun tidak semuanya medali tertinggi.

Di nomor tunggal putri, Verawaty menembus final tetapi takluk pada pemain Jepang, Fumiko Tukarin.

Namun, di nomor ganda putri, Verawaty berpasangan dengan Imelda Wiguna menjadi juara, menundukkan pasangan Jepang, Atsuko Tokuda dan Mikiko Takeda. 

Baca juga: Taliban Larang Televisi Tayangkan Drama dan Sinetron, Jurnalis Perempuan Diminta Gunakan Jilbab

Seperti diberitakan harian Kompas edisi 29 Oktober 1979, ganda campuran di Calgary menempatkan All Indonesian Final. Verawaty dan Imelda yang berpasangan di ganda putri, menjadi lawan tanding di nomor ini. 

Verawaty berpasangan dengan Ade Candra, sementara Imelda berpasangan dengan Christian Hadinata. Pemenangnya, pasangan Imelda dan Christian.

Meski demikian, penampilan Verawaty mulai menjadi sorotan. 

Terlebih lagi, dalam satu rangkaian perjalanan dengan laga di Kanada, Verawaty merajai pula nomor-nomor pertandingan di Denmark, dengan jeda pertandingan ekshibisi di Los Angeles, Amerika Serikat.

Pada 1979, Verawaty dan Imelda pun menyabet gelar juara ganda putri All England. 

Awal puncak karier Verawaty pun meletup pada 1980. Di nomor tunggal putri, ia memenangi Kejuaraan Dunia Badminton pada tahun itu, sekaligus menjadi juara dunia pertama badminton dari Indonesia.

Bersama Imelda, di kejuaraan yang sama mereka menjadi runner-up. Sejak itu, aneka gelar bergiliran disabet Verawaty, baik dari nomor tunggal putri, ganda putri, maupun ganda campuran.

Sempat rehat pada 1983-1984 karena melahirkan, Verawaty melegenda dengan gelar-gelar juara setelah comeback hingga gantung raket. 

Verawaty juga punya andil bagi tim Indonesia saat memenangkan Piala Sudirman pada 1989.

Selain gelar juara dunia untuk tunggal putri pada 1980, Verawaty memenangi pula Kejuaraan Dunia 1986 dan 1989 dari nomor ganda campuran bersama Eddy Hartono.

Selain itu, Verawaty pernah pula menjadi finalis Kejuaraan Dunia untuk nomor ganda putri bersama Imelda pada 1980 dan di nomor ganda campuran bersama Eddy Hartono pada 1989. 

Baca juga: Hari Ini Jumpa Tira Persikabo, Ini 2 Keuntungan Persipura

Terakhir membawa nama negara, Verawaty mempersembahkan medali emas Asian Games 1990 dari nomor ganda campuran berpasangan dengan Eddy Hartono, dari nomor ganda putri berpasangan dengan Lili Tampi.

Dalam rentetan prestasi-prestasi Verawaty, di nomor ganda putri dia antara lain pernah berpasangan dengan Imelda Wigoena, Ruth Damayanti, Ivanna Lie, Rosiana Tendean, Yanti Kusmiati, dan Lili Tampi.

Adapun di nomor ganda campuran, dia pernah berpasangan dengan Bobby Ertanto dan Eddy Hartono. 

Penampilan terakhirnya di publik dengan label pemain bulu tangkis adalah saat menyerahkan obor Asian Games 2018 ke Presiden Joko Widodo. 

Ada Minarni di balik nama besar Verawaty Selain keluarga dan Ferry Sonneville, perjalanan Verawaty sebagai legenda bulu tangkis putri Indonesia juga tak terlepas dari sosok bernama Minarni. 

Pada kurun 1960-1970, Minarni adalah nama besar pebulu tangkis putri Indonesia di kancah internasional.

Sempat mengundurkan diri karena menikah, Minarni kembali kembali bermain di lapangan lagi pada 1974, setelah punya tiga anak. 

Prestasi Minarni tak surut setelah kembali. Dia langsung menyabet gelar juara Kejurnas 1974, berpasangan dengan Retno Kustiah. Setahun kemudian, dia memimpin tim putri Indonesia memenangi Uber Cup. 

Lalu, Minarni mundur lagi dari lapangan. Lalu, balik lagi.

Comeback kedua bukan untuk menjadi pemain lagi. Sudah cukup ambisi Minarni membuktikan diri bahwa pemain putri Indonesia bisa berjaya laiknya pemain putra di laga dunia.

Baca juga: Toprak Persembahkan Gelar Juara Dunia Superbike bagi Sang Ayah

Saat itu adalah era Rudy Hartono, penggenggam delapan gelar juara All England. Kali ini, Minarni kembali untuk menjadi pelatih.

Menjadi pelatih, ambisi Minarni hanya satu, melambungkan Verawaty ke level tertinggi. Dan terbukti.

Kisah Minarni dan Verawaty Fajrin antara lain diungkap dalam artikel harian Kompas edisi 20 Maret 1976, berjudul Ambisi Minarni. 

Kisah Verawaty semakin digali semakin menginspirasi. Ada teramat banyak peristiwa dan nama yang turut tergali pula.

Kini, Verawaty telah berpulang. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun, selamat jalan, Verawaty....

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Verawaty Fajrin, Juara Dunia Badminton Putri Pertama dari Indonesia",

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved