Santriwati Korban Rudapaksa Guru di Bandung Juga Jadi Kuli Bangunan, Anak Korban Diakui Yatim Piatu

Diketahui sebelumnya, sebanyak 12 santriwati di bawah umur menjadi korban pemerkosaan oleh gurunya.

TribunWow.com/Rusintha Mahayu
Ilustrasi Pemerkosaan - Sebanyak 12 santriwati di bawah umur menjadi korban pemerkosaan oleh gurunya. 

TRIBUN-PAPUA.COM - Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). RI Livia Istania DF Iskandar mengungkapkan fakta baru terkait korban pemerkosaan guru pesantren di Bandung.

Diketahui sebelumnya, sebanyak 12 santriwati di bawah umur menjadi korban pemerkosaan oleh gurunya.

Dari belasan korban yang sudah diperkosa itu, beberapa di antaranya sedang mengandung dan sudah melahirkan anak.

Baca juga: Pengakuan Polisi Gadungan yang Buat Konten di TikTok, Ngaku Bekerja sebagai Satpam saat Ditangkap

Baca juga: Lakukan Penganiayaan, PW di Serahkan Ke Jaksa Guna Proses Hukum ke PN

Berdasarkan fakta di persidangan, terungkap nak-anak yang dilahirkan oleh para korban diakui sebagai anak yatim piatu.

Bahkan anak-anak itu dijadikan alat oleh pelaku untuk meminta dana kepada sejumlah pihak.

"Dan Program Indonesia Pintar (PIP) untuk para korban juga diambil pelaku . Salah satu saksi memberikan keterangan bahwa ponpes mendapatkan dana BOS yang penggunaannya tidak jelas, serta para korban dipaksa dan dipekerjakan sebagai kuli bangunan saat membangun gedung pesantren di daerah Cibiru," ucap Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) RI Livia Istania DF Iskandar, dalam keterangan tertulisnya, Kamis (9/12/2021).

Menurutnya, dalam melakukan aksinya, para korban ditempatkan dalam sebuah rumah yang dijadikan asrama Ponpes MN.

"Pelaku kemudian membujuk rayu anak didiknya hingga menjanjikan para korban akan disekolahkan sampai tingkat universitas," ucapnya.

LPSK menduga adanya eksploitasi ekonomi dalam kasus pencabulan belasan anak pesantren oleh HW, guru pesantren di Bandung.

Untuk itu, LPSK mendorong Polda Jabar untuk mengungkapkan dugaan penyalahgunaan tersebut.

"LPSK mendorong Polda Jabar juga dapat mengungkapkan dugaan penyalahgunaan , seperti eksploitasi ekonomi serta kejelasan perihal aliran dana yang dilakukan oleh pelaku dapat di proses lebih lanjut." 

Baca juga: TNI Temukan Senjata Prajurit yang Tewas Dibunuh saat Kontak Tembak dengan KKB di Suru-suru Yahukimo

Perlindungan

Dikatakan, saat ini LPSK memberikan perlindungan kepada 29 orang (12 orang di antaranya anak di bawah umur) yang terdiri dari pelapor, saksi dan/atau korban dan saksi saat memberikan keterangan dalam persidangan dugaan tindak pidana persetubuhan terhadap anak.

Sidang itu menghadirkan terdakwa HW yang merupakan pemilik Ponpes MN yang digelar di PN Kota Bandung dari tanggal 17 November sampai 7 Desember 2021.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved