Breaking News:

Kisah Husnan Perantau Senior Asal Madura: Saya Sudah 10 Gubernur Hidup di Papua

Sejak merantau di Jayapura, tahun 1979, Husnan baru empat kali kembali ke Madura.

Tribun-Papua.com/Gratianus
HUSNAN MADURA- Husnan (56 tahun) berbaju merah, berfose bersama kenalannya di kedai baksonya, kawasan Pasar Ampera, Kota Jayapura, Sabtu (15/1/2022). Husnan sudah 43 tahun merantau dari Madura ke Jayapura. 

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA  - “Saya merantau di Papua masih lihat Pak Aqub Zainal periksa saluran air, jalan di Jayapura. Sudah lebih 10 gubernur,” kata Husnan (56 tahun), pedagang bakso di kawasan Pasar Ampera, Jl Dr Soetomo, Jayapura, Sabtu (15/1/2022) siang, saat ditanya soal masa perantauannya di Papua.

Husnan coba mengingat kembali kenangan tentang gubernur setelah empat dekade dia di Papua. 

Aqub Zainal adalah gubernur ke-7 Papua (1973-1975). Kala itu masih bernama Irian Jaya. 

Aqub adalah brigadir jenderal TNI. Sebelum jadi gubernur pernah menjabat Panglima Kodam XVII Cenderawasih (1970-1973).

Sejak Papua masih bernama Irian Barat, September 1956, Papua sudah dipimpin 13 kepala daerah.

Ini belum termasuk 8 penjabat gubernur, termasuk satu pelaksana harian gubernur yang dijabat Dance Yulian Flassy (24 Juni - 21 Juli 2021) lalu.

PERANTAU MADURA - Husnan (56 tahun) berbaju merah, berfose bersama kenalannya di kedai baksonya, kawasan Pasar Ampera, Kota Jayapura, Sabtu (15/1/2022).
PERANTAU MADURA - Husnan (56 tahun) berbaju merah, berfose bersama kenalannya di kedai baksonya, kawasan Pasar Ampera, Kota Jayapura, Sabtu (15/1/2022). (Tribun-Papua.com/Gratianus)

Husnan adalah sosok 'perantau senior' di Jayapura.

Dia meninggalkan Pelabuhan Kamal, Pulau Madura saat usianya masih 15 tahun.

Awalnya, dia ikut dengan kakaknya yang lebih dulu lima tahun mengadu nasib di Bumi Cendrawasih ini.

Kini kakaknya masih menetap dan beranak pinang di kawasan Kloof Kamp,  pemukiman berjarak sekitar 1,7 km pemukiman sebelah barat Pasar Ampera.

Sejak lama, Ampera dikenal sebagai kawasan aneka usaha.

Ini pusat bisnis tertua, modern, dan paling ramai di ibukota provinsi.

Ampera adalah kawasan dengan pusat perputaran uang terbesar di Papua. Di kawasan inilah, bank nasional, BUMN, kantor pemerintah, dan distributor barang berkantor.

Jarak tempuh dari pelabunan juga sekitar 5 menit.

Di Ampera, aneka usaha mulai dari tekstil, perabotan rumah tangga, hingga kuliner.

Ramai dan serba ada.

Berbagai kuliner dijajakan di pinggir jalan atau dalam bangunan.

Seperti mie ayam, es buah, nasi padang, warung kopi, dan juga bakso.

Warung Bakso Pak Husnan salah satunya.

Kini, usianya sudah 56 tahun. Artinya sudah empat dekade dia meninggalkan kampung.

Tiga anaknya lahir dan besar di Jayapura.

“Saya empat tahun ikut sama juragan. Sisanya mulai usaha sendiri,” ujar perantau asal Socah, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur ini.

Socah adalah kampung agraris di Pulau Madura.

Jaraknya hanya sekitar 15 menit dari Kota Bangkalan.

“Bapak saya tani, Alhamdulillah meski hanya sampai kelas II SD, tapi bisa baca dan hitung,” ujarnya dengan logat Madura kental.

Husanan kini jualan bakso, gado-gado, soto ayam, dan aneka minuman di kedai kontrakan di pengkolan utara Pasar Ampera.

“Saya paling lama jualan bubur kacang ijo, mie rebus, dan kopi gerobak di Paldam.”

Harga rerata menu makanan di warung Bakso Pak Husnan berkisar Rp 20 ribu.

Sedangkan menu minuman berkisar Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu.

Ini harga minuman dingin dan panas olahan. Bukan minuman kemasan.

Meski kebanyakan perantau asal Madura jadi tukang sate gerobak atau pemangkas rambut, Husnan setia jadi pedagang.

“Saya sempat dua bulan buka usaha cukur, tapi tidak cocok. Pernah juga setahun dagang di (kabupaten) Sarmi.”

Dia bercerita, selama hampir tiga dasawarsa bubur kacang ijo, mie rebus, dan minuman instant jadi kuliner jajanan favorit di Kota Jayapura.

Pedagangnya kebanyakan perantau asal Jawa, Ambon dan Sulawesi.

Sejak lima tahun terakhir, UKM jajanan bubur kacang ijo di pinggir jalan di Jayapura mulai langka.

Setelah 30 tahun jadi pedagang kaki lima di sekitar kawasan Paldam  dan Ampera, Husnan memilih menetap. Meski masih kontrak, namun dia bisa menyekolahkan anak dan menabung untuk berhaji.

Di kedai kontrakannya, Husnan dibantu 4 keponakannya.

Mereka juga dari Socah. “Sabtu lalu, satu ponakan ke Jakarta, mau jadi tukang kopi sepeda keliling di Jakarta Pusat,” ujarnya.

Istri dan tiga anaknya, juga kerap membantu.

“Yang tua ini, sudah sarjana tapi siang masih sering bantu-bantu disini.”

Husanan adalah sosok perantau tulen.

Ia jarang pulang kampung,

Selain itu, harga tiket penerbangan mahal.

Di situs Traveloka, tiket pesawat ekonomi ke Surabaya dijual Rp 1,6 juta hingga Rp2 juta.

Dulu, sebelum maskapai penerbangan banyak, untuk ke Jawa masih menumpang kapal laut.

Butuh lima hingga enam hari untuk ke Pulau Jawa

Itulah kenapa dia kerap mengurungkan niat pulang kampung.

“Ya kalau pulang itu habis di jalan, Mas,” katanya sambil menunjukkan gestur menggosok jari telunjuk dan jempol.

Sejak menetap di Jayapura, tahun 1979, Husnan baru empat kali kembali ke Madura.

Pun jika kembali, untuk urusan penting. Kala orangtuanya sakit, atau adiknya menikah.

“Alhamdulillah, tahun 2017 saya juga sudah lewat Jembatan Suramadu,” ujarnya soal pertama kali dia melintasi jembatan sepanjang 5,3 km penghubung Pulau Jawa dan Madura.

Meski sudah 43 tahun menetap di Jayapura, namun dia masih memilih ngontrak dan memperbaiki rumah orangtuanya di Madura.

“Harga tanah di Jayapura ini terlalu mahal.Belum bisa kami beli.Kalau beli tanah dekat kali, atau di Waena banyak yang tawari, cuma belum sreeg dengan hati,” kata Husnan menjelaskan kenapa dia memilih masih kontrak rumah di belakang markas Pembekalan Militer Kodam XVII Cendrawasih, tiga dekade terakhir. (*)

Halaman
Sumber: Tribun Papua
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved