Nasional

Ini Sektor yang Paling Diincar Investor di 2022

Ke depannya BKPM akan mencoba menggali potensi peluang investasi di ekonomi hijau dan ekonomi biru.

IST
ilustrasi nanas tangkit di lahan gambut di Jambi 

TRIBUN-PAPUA.COM- JAYAPURA – Deputi Bidang Perencanaan Penanaman Modal Kementerian Investasi/BKPM Nurul Ikhwan menyebutkan bahwa sektor hilirisasi disebut-sebut paling diincar para investor pada tahun ini.

 “Kita melihatnya hilirisasi ini yang bakalan menjadi sektor incaran. Kalau kita bicara tentang hilirisasi kan basis logikanya adalah bahwa memang Sumber Daya Alamnya ada di Indonesia,” ujar Nurul Ikhwan dilansir Kontan.co.id, Minggu (20/2/2022).

Lebih lanjut Nurul mengatakan, ke depannya BKPM akan mencoba menggali potensi peluang investasi di ekonomi hijau dan ekonomi biru.

Baca juga: Indonesia Naik Peringkat dalam Indeks Demokrasi 2021

“Misalnya ketika kita berbicara mengenai supplier atas kebutuhan bisnis carbon trading, karena kalau bicara carbon trading ini kan kita bisa membuat proyek investasi mulai dari menghijaukan hutan yang gundul, menanam mangrove di sepanjang pesisir pantai di Indonesia atau memanfaatkan lahan gambut,” kata Nurul.

Hal tersebut menarik untuk dikembangkan karena dari sisi market, carbon trading ada market yang berkaitan dengan kesepakatan atau komitmen ataupun niatan negara-negara dengan National Determined Contribution (NDC).

Selain itu juga adanya voluntary market.

Voluntary market sendiri adalah pelaku usaha yang dalam proses produksinya masih belum menggunakan energi hijau atau dalam proses produksinya masih mengkontribusikan karbon ke atmosfir.

Sehingga dalam rangka untuk mengurangi kontribusi itu maka harus trading atau membeli sertifikat atas hutan yang sudah dihijaukan kembali.

Baca juga: Kabar Gembira buat Buruh: Jokowi Minta Menaker Revisi Aturan Dana JHT, Hotman Paris Bersuara

Kemudian lahan gambut yang dipelihara untuk tetap basah agar tidak melepaskan karbonnya ke udara sehingga bisa dikalkulasi berapa karbonnya yang tidak terkontribusikan ke udara sebagai kompensasi dari upaya untuk tidak mencemari lingkungan.

 “Perusahaan besar yang saat ini teknologinya masih belum bisa meng-cover untuk tidak berkonstribusi karbon ke udara, dia akan membeli itu. Nah kalau dia membeli itu kita bisa menjadi suppliernya,” pungkasnya. (*)

Sumber: Tribun Papua
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved