Nasional

Perang Rusia – Ukraina, Pasar Modal dan Ekonomi Indonesia Tidak Terlalu Terganggu

Fikri menilai hal tersebut tidak mempengaruhi perekonomian Indonesia secara signifikan

Tribun-Papua.com/Istimewa
Sejumlah orang berseragam melempatkan berbagai benda ke api di depan gedung intelijen di unit Kementrian Pertahanan Ukraina, di Kyiv, Ukraina, Kamis (24/2/2022). ANTARA FOTO/REUTERS/Umit Bektas/FOC/djo(ANTARA FOTO/REUTERS/UMIT BEKTAS) 

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA – Senior Economist PT Samuel Sekuritas Indonesia Fikri C Permana mengatakan, pasar modal dan ekonomi Indonesia dinilai tidak terlalu terganggu dengan adanya perang RusiaUkraina.

Terdapat fakta yang perlu dipahami di tengah munculnya perang Rusia-Ukraina.

"Invasi Rusia dilakukan di dua daerah yang selama ini memang telah dikuasasi separatis pro-Rusia. Layaknya invasi Crimea di 2014, maka invasi kali ini juga berdampak lokal yaitu antara Rusia-Ukraina saja," kata Fikri, Kamis (24/2/2022).

Sehingga, Fikri menilai hal tersebut tidak mempengaruhi perekonomian Indonesia secara signifikan, apalagi hubungan ekonomi langsung Indonesia dengan Rusia dan Ukraina relatif kecil.

"Terlihat dari hubungan dagang (ekspor-impor) maupun nilai investasi Indonesia dengan Rusia dan Ukraina di 2021 lebih kecil dari 1 persen," ucapnya.

Baca juga: Harga Minyak Sentuh Angka 95,46 Dollar AS per Barrel

Baca juga: Transaksi Digital Tembus Rp 4.314,3 Triliun, Gubernur BI: Karena Masyarakat Gemar Belanja Online

Kemudian, aliran dana asing di pasar saham Indonesia pada hari ini juga tetap melaju kencang, lebih dari Rp 15 triliun sejak 1 Februari hingga 23 Februari 2022 di tengah tensi Rusia-Ukraina meningkat.

"Rupiah juga stabil pada level Rp 14.200-14.400 per dolar AS, juga karena net buy investor asing tadi. Bahkan jika dolar AS Index tidak naik, rupiah masih bisa terapresiasi lagi," paparnya.

Fikri menyebut, fundamental ekonomi Indonesia yang baik, khususnya didorong pemulihan ekonomi yang diindikasikan dengan Indeks Kepercayaan Konsumen dan Penjualan Eceran di Januari 2022 mencapai level tertinggi sejak awal pandemi.

"Dengan demikian, kami juga menilai efek perang Rusia-Ukraina terhadap pasar modal Indonesia akan bersifat temporer, dan lebih menyebabkan perilaku berhati-hati di pasar," tuturnya.

Bahkan di sisi lain, kata Fikri, invasi Rusia-Ukraina akan berdampak pada peningkatan harga komoditas.

"Ini harusnya berdampak positif bagi ekspor dan sektor komoditas dalam negeri, karena adanya supply shock di global," ucapnya. (*)

Sumber: Tribun Papua
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved