Hukum & Kriminal

Provokator Kerusuhan Pulau Haruku Ditangkap di Papua, Tersangka Dijerat UU ITE

Mario ditangkap tim Cyber Ditreskrimus Polda Maluku di  Merauke dan langsung dibawa ke Kota Ambon untuk menjalani pemeriksaan.

Tribun-Papua.com/Kompas.com
Polda Maluku menangkap seorang warga bernama MM alias Mario yang diduga memposting status bernada ujaran kebencian di media sosial, Selasa (1/3/2022)(KOMPAS.COM/RAHMAT RAHMAN PATTY) 

TRIBUN-PAPUA.COM - Polda Maluku menangkap MM alias Mario, warga asal Maluku yang berdomisili di Papua, lantaran mengunggah status bernada ujaran kebencian dan provokatif di media sosial.

Mario ditangkap tim Cyber Ditreskrimus Polda Maluku di  Merauke dan langsung dibawa ke Kota Ambon untuk menjalani pemeriksaan.

Kini, Mario telah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di sel tahanan Polda Maluku.

Baca juga: Warga Tewas Tertembak di Hutan Pulau Haruku, 2 Desa Kembali Bersitegang

Kabid Humas Polda Maluku, Kombes Pol Muhamad Roem Ohoirat mengatakan, penangkapan terhadap Mario dilakukan setelah tim cyber melakukan patroli cyber dan menemukan status Mario yang dianggap sangat provokatif terkait bentrokan warga di Pulau Haruku.

"Tersangka ini beralamat sesuai KTP di Jayapura tapi dia ditangkap saat sementara beraktivitas sebagai pegawai koperasi pegawai simpan pinjam di Marauke," kata Roem kepada wartawan di markasnya, Selasa (1/3/2022). 

Tersangka yang juga pemilik akun "Way Kalalewa" ini sebelumnya mengunggah status bernada provokatif dan ujaran kebencian terkait bentrok warga di Pulau Haruku di beranda facebook miliknya pada 16 Februari lalu.

Dalam postingannya, tersangka menyebut aparat telah menemukan sejumlah bukti berupa selongsong peluru dan bahan peledak yang digunakan kelompok penyerang untuk menyerang salah satu desa di Pulau Haruku.

Aparat gabungan TNI-Polri diiterjunkan ke Pulau Haruku Maluku Tengah, Rabu (26/1/2022) pagi.
Aparat gabungan TNI-Polri diiterjunkan ke Pulau Haruku Maluku Tengah, Rabu (26/1/2022) pagi. (Humas Polresta Ambon)

Tersangka juga menuduh kelompok penyerang terdiri dari dua desa yang memiliki senjata api organik.

Baca juga: Kenang Tragedi Sorong dan Pulau Haruku, Keluarga Maluku: Kita Basodara Gandong

Selanjutnya tersangka menuduh dua desa itu sebagai kelompok teroris yang telah menembak mati warga Hulaliu.

Dijerat UU ITE

Menurut Roem, postingan tersangka itu dinilai telah melanggar ketentuan Undang-undang  Tindak Pidana Transaksi Elektronik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 a ayat (2) Jo Pasal 28 ayat (2) UU Nomor 19 Tahun 2016 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 11 tahun 2008.

"Akun Way Kalalewa yang digunakan tersangka ini akun palsu," katanya. 

Roem mengungkapkan, tim Cyber Polda Maluku langsung mengirim tim ke Marauke untuk menangkap tersangka setelah berhasil mengidentifikasi pemilik akun.

"Tersangka ditangkap pada 22 Februari lalu atas kerja sama tim Cyber Polda Maluku dan Polres Merauke," katanya.

Terkait kasus itu, ia mengimbau warga agar lebih bijak dalam bermedia sosial, sebab bagi mereka yang menyebarkan hoaks dan ujaran kebencian ada konsekuensi hukumnya.

Baca juga: Mahfud MD: Tak Ada Unsur SARA di Pulau Haruku

Dia juga mengingatkan, ke depan siapa pun yang melakukan provokasi lewat media sosial dan menyebarkan ujaran kebencian baik itu lewat media sosial maupun di dalam masyarakat akan ditindak tegas sesuai ketentuan yang berlaku.

"Kita di wilayah Maluku ini karena adanya informasi-informasi hoaks, kita khawatir bisa berpengaruh kepada stabilitas keamanan dan ketertiban. Olehnya, tersangka kita tangkap untuk diproses," jelasnya. (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Pengunggah Status Ujaran Kebencian Terkait Bentrok Pulau Haruku Ditangkap di Merauke"

Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved