Covid 19

Dua Tahun Pandemi COVID-19 di Indonesia, Kolaborasi Percepat Vaksinasi

Dua tahun pandemi ditandai dengan pengumuman dua kasus pertama positif COVID-19 di Indonesia oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal yang sama di 2020

Editor: Musa Abubar
Tribunnews.com
ilustrasi yang diambil di London pada 2 Desember 2021 menunjukkan empat jarum suntik dan layar bertuliskan 'Omicron', nama varian baru covid 19, dan ilustrasi virus.    

TRIBUN-PAPUA.COM,JAYAPURA - Pada Rabu (2/3/2022) tepat dua tahun lamanya pandemi COVID-19 di Indonesia. Momentum ini ditandai dengan pengumuman dua kasus pertama positif COVID-19 di Indonesia oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal yang sama di 2020 lalu.

Hingga kini, pemerintah dan masyarakat telah melewati beberapa gelombang pandemi COVID-19 dari 2020 dengan gelombang varian Alpha, Delta di 2021 dan penyebaran varian Omicron Januari 2022.

Baca juga: Jelang HUT Kota Jayapura ke-112, Ini Harapan Warga

"Pembelajaran pandemi COVID-19 selama dua tahun ini sangat banyak. Pertama adalah pentingnya kolaborasi. Tidak mungkin Kemenkes mampu bekerja sendirian menangani pandemi ini,"kata Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kemenkes, dr. Siti Nadia Tarmizi.

"Kita harus inklusif dan bekerja sama dengan banyak pihak, termasuk para ahli, media, tokoh masyarakat, tokoh agama, organisasi masyarakat, dan instansi pemerintah lintas sektor,"ujarnya.

Pentingnya kolaborasi ini termasuk dalam hal mempercepat laju vaksinasi COVID-19. Hingga Rabu (2/3/2022) vaksinasi dosis 1 sudah diberikan kepada 190.979.676 (91,70 persen) penduduk.

Baca juga: Tambah Regimen Booster, Ini 6 Jenis Vaksin COVID-19 yang Digunakan di Indonesia

Lalu, vaksinasi dosis 2 sudah diberikan kepada 144.565.875 (69,41 persen) penduduk. Sementara vaksinasi dosis 3 (booster) sudah diberikan kepada 10.249.634 (4,92 persen) penduduk.

Selain kolaborasi, dr. Nadia mengamati pandemi menunjukkan pentingnya penguatan layanan kesehatan hingga ke daerah-daerah.

"Penguatan layanan kesehatan tentunya sangat krusial di masa pandemi, terutama layanan kesehatan yang mampu menjangkau masyarakat yang berada di pelosok daerah,"katanya.

Baca juga: BMKG: 6 Wilayah di Papua Masih Berstatus Waspada Gelombang Tinggi

"Sepanjang pandemi, kami terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan dinas kesehatan di seluruh Indonesia untuk memastikan kita memiliki layanan kesehatan yang mampu memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat,"ujarnya.

Beberapa hasil positif dari strategi penguatan layanan kesehatan adalah dengan menurunnya jumlah pasien COVID-19 di rumah sakit menjadi 33 persen dari total kapasitas nasional dibanding Rabu (1/3/2022) yang sempat berada di posisi 34 persen.

Baca juga: Pratu Heriyanto, Korban Kontak Tembak dengan KKB Dievakuasi ke Mimika

Selain itu, kata dia, jumlah kesembuhan juga meningkat pada Selasa menjadi 42.935 dibanding hari kemarin, Senin di posisi 39.887.

Positivity rate harian juga mengalami penurunan menjadi 12,24 persen dibanding Senin (28/2/2022) di angka 18,21 persen.

Pemeriksaan spesimen juga diperkuat pada Selasa (1/3) lalu kembali ke level 438.751 setelah sebelumnya pada Senin (28/2/2022) di level 276.215 karena libur peringatan Isra Miraj.

Baca juga: Fauzun Nihayah, Wakil Rakyat Pembela Nasabah Korban BMT BU Merauke 

dr. Nadia mengingatkan peran penting masyarakat untuk membantu pemerintah menangani pandemi.

"Perjuangan kita belum selesai dan kita tidak boleh patah semangat. Sudah banyak keberhasilan yang kita peroleh selama 2 tahun ini, namun kami masih butuh bantuan dan dukungan masyarakat,"katanya.

"Menjalankan protokol kesehatan dan melengkapi vaksinasi agar kita dapat segera mencapai minimal 70% dari total target vaksinasi nasional,"tambah dia.(Sumber : kemkes.go.id)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved