Nasional

Perang Rusia - Ukraina Bawa Berkah bagi Pasar Modal Indonesia?

Pemangkasan proyeksi ekonomi global akibat ketegangan geopolitik dinilai mengerek prospek aliran investasi terhadap pasar modal negara berkembang.

Sergei Malgavko / TASS
Pasukan militer Rusia mencapai Kota Kherson, Ukraina, Rabu (2/3/2022). 

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA – Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, pasar modal Indonesia dapat berkah dari perang Rusia-Ukraina.

Pemangkasan proyeksi ekonomi global akibat ketegangan geopolitik itu, dinilai akan mengerek prospek aliran investasi terhadap pasar modal negara berkembang dengan fundamental ekonomi cukup baik.

"Khususnya, Indonesia yang memiliki sovereign rating, kurs rupiah, dan yield masih relatif terjaga," ujar dia melalui risetnya, Senin (14/3/2022).
Sejak awal tahun, proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2022 telah terpangkas menjadi 4,4 persen dari 5,5 persen pada 2021.

Penurunan tersebut, di antaranya disebabkan oleh tekanan yang tengah terjadi di dua ekonomi terbesar dunia, pertama yakni di Amerika Serikat imbas adanya percepatan kebijakan moneter dan gangguan rantai pasokan berkelanjutan.

Kemudian di China, di mana adanya perlambatan ekonomi akibat krisis energi dan tekanan keuangan yang berkepanjangan antar pengembang properti.

Selain itu, belum berakhir kasus Omicron, dunia dihadapkan pada risiko perang antara Rusia dan Ukraina, yang memicu pukulan bagi perekenomian global yaitu gangguan rantai pasokan.

Baca juga: Layanan Telkomsel 5G Hadir di Bandara Soetta

Baca juga: Soal Pemindahan IKN, Kepala BIN: Minimalisasi Dampak Politik, Ekonomi, dan Sosial Budaya

Baca juga: Ini Strategi Presiden Zelensky Antisipasi Krisis Ekonomi di Ukraina

Perang juga mengakibatkan terbatasnya pasokan minyak imbas rencana pemboikotan, kenaikan komoditas dan harga bahan baku, serta inflasi global yang berpotensi menyebabkan stagflasi.

"Hal tersebut memicu outlook ekonomi global lebih menantang lagi ke depannya," kata Nico.

Sebelumnya, para petinggi lembaga moneter dunia mengungkapkan adanya perkiraan penurunan outlook ekonomi global, yang mengindikasikan lesunya ekonomi dunia.

"Pemicu utamanya kerusakan yang ditimbulkan dari invasi Rusia yang memberikan efek domino terhadap aliran perdagangan. Pemulihan ekonomi yang sedang berlangsung, harus terhambat dengan adanya invasi tersebut," pungkasnya. (*)

Sumber: Tribun Papua
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved