Covid 19

Butuh Waktu Panjang Hilangkan Penyakit, Siti : Harus Siap Berdampingan Dengan COVID-19

dr. Siti Nadia Tarmizi menyebut pemerintah tidak terburu-buru untuk menyatakan transisi memasuki endemik

Editor: Musa Abubar
Tribun-Papua.com/Tribunnews.com
Vaksin Sputnik-V buatan Rusia yang disebut memiliki efikasi 91 persen, khusus untuk vaksinasi Covid-19 dengan usia 18 tahun ke atas. 

TRIBUN-PAPUA.COM,JAYAPURA - Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmizi menyebut pemerintah tidak terburu-buru untuk menyatakan transisi memasuki endemik.

Pasalnya proses transisi menuju normalisasi endemi itu artinya bukan berarti kasus COVID-19 tidak ada sama sekali tapi kasus tetap akan ada.

Baca juga: FDA Buka Data Uji Klinis Pfizer, Ada Ribuan Kejadian Buruk

"Untuk menghilangkan sebuah penyakit itu membutuhkan waktu yang lebih panjang, tentunya kita harus bersiap untuk terus berdampingan dengan COVID-19,"kata Siti Nadia dikutib dari kemkes.go.id.

Menurut dia, kini Indonesia masih dalam kondisi pandemi COVID-19, dengan banyaknya tren indikator pengendalian pandemi yang terus menunjukkan ke hal yang positif, Indonesia sudah mulai bersiap-siap membuat langkah menuju ke arah endemi.

Baca juga: Polisi Ungkap Identitas Mayat di Bawah Tol Semarang, Nakes Asal Sleman yang sempat Dilaporkan Hilang

Transisi endemi marupakan proses dimana periode dari pandemi menuju ke arah endemi dengan sejumlah indikator, antara lain laju penularan harus kurang dari 1, angka positivity rate harus kurang dari 5 persen.

Selanjutnya, tingkat perawatan rumah sakit harus kurang dari 5 persen, angka fatality rate harus kurang dari 3 persen, dan level PPKM berada pada transmisi lokal level tingkat 1.

Kondisi kondisi ini harus terjadi dalam rentang waktu tertentu misalnya 6 bulan.

Baca juga: Meski Penanganan COVID-19 Menunjukkan Perbaikan, Tetap Waspda Dalam Status Pandemi

"Tentunya indikator maupun waktunya masih terus dibahas oleh pemerintah bersama dengan para ahli untuk menentukan indikator yang terbaik untuk kita betul-betul mencapai ke arah kondisi endemi,"ujarnya.

"Yang paling penting pada saat endemi, walaupun kasusnya ada, dia tidak akan mengganggu kehidupan kita seperti saat ini di mana hampir aktivitas-aktivitas kehidupan kita, kehidupan sosial, kehidupan beragama, pariwisata ini tidak terganggu dengan adanya kasus COVID-19,"katanya.

Baca juga: Langsung Datang ke Markas setelah Anak Buah Ditembak TNI, Komandan Brimob Minta Semua Anggota Tenang

Kini, kata dia, Indonesia sudah dalam proses transisi perubahan pandemi menjadi endemi. Proses transisi itu sejalan dengan kebijakan pelonggaran-pelonggaran yang diputuskan pemerintah.

Baca juga: Dorong Mahasiswa Ikuti Program Magang di MBSI, Terget 500 Organisasi dan Industri Buka Loker

Pelonggaran itu guna menurunkan level PPKM menjadi level 2, menghapuskan antigen dan PCR sebagai syarat melakukan perjalanan domestik menggunakan transportasi laut, darat maupun udara bagi masyarakat yang sudah vaksin hingga dosis ke-2.

Pemerintah juga menurunkan jangka waktu karantina bagi masyarakat yang melakukan perjalanan luar negeri, dari yang sebelumnya karantina 14 hari menjadi 7 hari, kemudian 3 hari, hingga saat ini menjadi 1 hari. (Sumber : kemkes.go.id)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved