Nasional

Malaysia Daftar Reog Ponorogo ke UNESCO sebagai Budayanya, Nadiem Makarim Lebih Pilih Jamu

Sikap Nadiem yang lebih memilih jamu ketimbang Reog Ponorogo untuk didaftarkan ke UNESCO tentunya membuat kecewa Pemerintah Kabupaten Ponorogo.

SHUTTERSTOCK/oki cahyo nugroho
Kesenian Reog Ponorogo asal Indonesia akan diusulkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (Intangible Cultural Heritagen/ICH) ke UNESCO.(SHUTTERSTOCK/oki cahyo nugroho) 

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA – Malaysia mengusulkan kesenian Reog Ponorogo ke UNESCO sebagai budayanya.

Hal ini tak lepas dari sikap Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim yang lebih memilih jamu ketimbang kesenian dari Bumi Reog itu.

Sikap Nadiem yang lebih memilih jamu ketimbang Reog Ponorogo untuk didaftarkan sebagai Wisata Budaya Tak Benda (WBTB) ke UNESCO tentunya membuat kecewa Pemerintah Kabupaten Ponorogo.

Apalagi, dengan Malaysia mengambil peluang untuk mendaftarkan kesenian Bumi Reog itu ke UNESCO sebagai budaya mereka, makin menambah kekecewaan masyarakat Ponorogo terhadap Nadiem Makarim.

“Kami kaget dengan keputusan Mendikbudristek, Nadiem Makarim yang secara nyata lebih memilih jamu dibandingkan dengan memilih kesenian adiluhung reog Ponorogo untuk diusulkan ke dalam daftar ICH UNESCO.”

“Ini bukti bahwa pemerintah abai terhadap pelestarian dan pemajuan kebudayaan asli rakyat,” ujar Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko, pada Jumat (8/4/2022) malam.

Baca juga: Nadiem Makarim Kena Semprot Jokowi: Masa Bangku, Pensil, dan Pulpen Diimpor, Apa Ini?

Sugiri menuturkan, saat Malaysia berencana mengklaim dan mengajukan kesenian Reog sebagai kebudayaan negaranya ke UNESCO, Pemerintah Indonesia justru terkesan abai.

Hal itu dibuktikan dengan tidak dimasukannya kesenian Reog Ponorogo ke dalam daftar ICH UNESCO.

"Kesenian adiluhung reog Ponorogo dikalahkan oleh jamu," kata Sugiri.

Pria yang akrab disapa Kang Giri itu menuding Mendikbudristek melanggar petunjuk pengusulan UNESCO.

Sebab, sesuai petunjuk operasional Intangible Cultural Heritage (ICH) UNESCO terdapat tiga prioritas dalam menentukan berkas usulan.

Baca juga: Luncurkan Kurikulum Merdeka, Nadiem Sebut Kurikulum 2013 Tak Fleksibel, Padat, dan Membosankan

Ia menyebut, kelompok prioritas yang pertama adalah berkas dari negara yang belum pernah sama sekali memiliki elemen yang terinkripsi.

Kedua, praktik pelindungan terbaik yang terpilih atau yang mendapatkan bantuan internasional lebih dari 100.000 dollar AS.

Ketiga, berkas nominasi yang masuk dalam daftar warisan budaya tak benda yang membutuhkan pelindungan mendesak.

Halaman
12
Sumber: Tribun Papua
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved