KTT G20

Indonesia Terima Ancaman Negara-negara Anggota G20, Ini Kata Sri Mulyani

Aksi tersebut dinilai tidak mengganggu proses diskusi dalam pertemuan kedua para menteri keuangan dan gubernur bank sentra Presidensi G20 Indonesia.

Istimewa
Indonesia secara resmi memegang Presidensi G20 selama setahun penuh, yakni mulai 1 Desember 2021 hingga KTT G20 pada November 2022. 

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA – Delegasi sejumlah negara Barat seperti dari Amerika Serikat (AS), Inggris dan Kanada memutuskan walk out dari pertemuan G20 di Washington DC saat delegasi dari Rusia angkat bicara, Rabu (20/4/2022).

Bahkan Menteri Keuangan AS Janet Yellen ikut walkout dari pertemuan tersebut.

Demikian, Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani Indrawati buka suara.

Menurutnya, aksi tersebut tidak mengganggu proses diskusi dalam pertemuan kedua para menteri keuangan dan gubernur bank sentra atau Finance Ministers and Central Bank Governors (FMCBG) Presidensi G20 Indonesia.

Baca juga: Penunjukan Maudy Ayunda Jadi Jubir Presidensi G20 Disebut Gimik Belaka, Menkominfo Beri Bantahan

Sri Mulyani menyatakan tidak heran jika aksi ini akan terjadi karena AS dan beberapa negara barat yang tidak setuju adanya kehadiran Rusia di presidensi G20 sudah menyampaikannya jauh-jauh hari sebelum adanya pertemuan ini.

“Ini tidak mengherankan, namun (dipastikan) ini dilakukan tanpa mengganggu (pertemuan G20) serta tidak menimbulkan masalah dalam diskusi kita yang berkaitan dengan substansi itu sendiri,” tutur Sri Mulyani dalam Konferensi Pers, Kamis (21/4/2022).

Dari jauh-jauh hari, negara-negara Barat memang sudah memberi ancaman untuk walk out dari jauh-jauh hari, jika Rusia hadir dalam pertemuan Presidensi G20 Indonesia.

Namun, menurut Sri Mulyani, kehadiran Rusia dan Ukraina, sebagai negara undangan Presidensi G20, menjadi penting karena seluruh negara anggota mempunyai hak untuk menyampaikan pandangannya masing-masing, utamanya mengenai risiko ekonomi global dan penanganannya.

Baca juga: Jika Rusia Hadir, AS Ancam Bakal Boikot Sejumlah Pertemuan G20

Sri Mulyani menyatakan, para anggota G20 telah memberikan pandangannya terkait pentingnya menjaga kerja sama antar forum G20 meskipun dihadapkan pada kecaman geopolitik antara Rusia dan Ukraina.

Menurutnya, permasalahan ini juga menjadi tanggung jawab anggota G20 untuk sama-sama mengatasi dan memberikan solusi, karena geopolitik kedua negara ini sangat berpengaruh kepada ekonomi global.

Selain itu, kondisi ekonomi global yang mulai mengalami pemulihan, dikhawatirkan akan terganggu sebab, rantai pasokan seperti mendorong naiknya harga komoditas pangan, energi, dan mineral, yang terganggu akan mengganggu proses pemulihan ekonomi, dan berimbas ke negara-negara lain bahkan global.

Sehingga, anggota forum G20 bahkan semua pemangku kebijakan perlu mendukung dan memberikan masukan agar geopolitik kedua negara tersebut tidak semakin memperburuk proses pemulihan ekonomi. (*)

Sumber: Tribun Papua
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved