Pemkab Jayapura

Malaria pada Ibu Hamil dan Anak Hanya 1 Persen, Kapus Sentani: Kami Kerja Keras!

Kepala Puskesmas Sentani menyebutkan pencegahan malaria pada ibu hamil dan anak-anak, mendapatkan imunisasi dan diberikan kelambu.

Tribun-Papua.com/Putri Nurjannah Kurita
Kepala Puskesmas Sentani, dr Andrew Wicaksono saat memberikan keterangan terjadi peningkatan vaksinasi jelang mudik di Puskesmas Sentani, Sentani Kota, Kabupaten Jayapura, Rabu (27/4/2022). 

Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Putri Nurjannah Kurita

TRIBUN-PAPUA.COM, SENTANI – Puskesmas Sentani memiliki angka Anual Parasite Incidence (API) cukup rendah pada 2021.

Dikonfirmasi Kepala Puskesmas Sentani, dr. Andrew Wicaksono, angka API diketahui 37,87 di mana beberapa tempat masih di atas 100.

"Kami saat ini sudah di bawah 70, ibu hamil dan dan anak-anak wilayah Sentani ada, tetapi presentasinya tidak besar, hanya sekitar satu persen dari penderita penyakit malaria," ujar dr Andrew di Puskesmas Sentani, Jalan Kemiri 1, Sentani Kota, Kabupaten Jayapura, Rabu (27/4/2022).

Baca juga: Jelang Mudik, Vaksinasi di Puskesmas Sentani Meningkat Hingga 30 Persen

Ia mengatakan untuk pencegahan pada ibu hamil dan anak-anak, mendapatkan imunisasi dan diberikan kelambu.

"Kami juga ada kader malaria di setiap kampung dan pada Mei nanti akan dilakukan pelatihan dan terus di kejar agar memenuhi kuota di kampung-kampung," katanya.

Dari tujuh kampung dan tiga kelurahan, ada tujuh Puskesmas Pembantu (Pustu), Pondok Bersalin Desa (Polindes),  dan 16 kader malaria.

Baca juga: Pelaku Penembakan Warga Sipil di Ilaga Melarikan Diri, Polisi Evakuasi Jenazah ke Puskesmas

Ia menambahkan untuk fasilitas kesehatan di kampung-kampung ini sudah rusak berat sehingga tidak dapat digunakan.

"Kami sudah dorong di musrembang, hanya ada satu yang bisa beroperasi, ada petugasnya dan benar-benar memakai fasilitas, kemudian orang itu adalah orang asli yang memang dia tinggal di situ," ujarnya.

Kader malaria secara status mendapat pelatihan mencegah sampai mengobati, pelatihan kader itu ada pada kurikulum pelatihan.

"Kebetulan saya adalah fasilitator pelatihannya, mereka benar-benar dilatih, mencegah malaria sampai juga dapat mendiagnosis dengan pemakaian Rapid Diagnostic Test (RDT) malaria dan juga mengobati non komplikasi," katanya. (*)

Sumber: Tribun Papua
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved