Jumat, 15 Mei 2026

Hari Lahir Pancasila

SEJARAH! Kota Pancasila Itu Ada di Ende NTT

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengajak semua pihak mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat.

Tayang:
Editor: Roy Ratumakin
Istimewa
Lanskap taman renungan Bung Karno, terdapat pohon sukun tempat Bung Karno merenungkan rumusan Pancasila saat menjalani pengasingan di Kota Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT). 

TRIBUN-PAPUA.COMPresiden Joko Widodo (Jokowi) mengajak semua pihak mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat.

Selain itu, Presiden Jokowi pun mengajak menerapkan nilai Pancasila dalam tata pemerintahan.

Ajakan itu disampaikan Presiden Jokowi dalam sambutannya saat menjadi inspektur upacara peringatan Hari Lahir Pancasila di Kota Ende, NTT, sebagaimana disiarkan YouTube Sekretariat Presiden, Rabu (1/6/2022).

Kota Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT) selama ini mungkin hanya dikenal sebagai tempat pengasingan Presiden Pertama Republik Indonesia Soekarno, saat masa penjajahan Belanda.

Baca juga: Arti Gelar Adat Mosolaki Ulu Beu Eko Bewa yang Diterima Jokowi dari Masyarakat Ende

Jarang orang yang tahu bahwa Kota Ende juga menjadi tempat lahirnya Pancasila yang dirumuskan oleh Bung Karno saat masa pengasingan tersebut.

Kala itu, Bung Karno bersama dengan sang istri, Inggit Garnasih, anak angkatnya, Ratna Djuami dan Kartika, serta mertuanya yang bernama Ibu Amsi, diasingkan ke Kota Ende oleh Belanda dari tanggal 14 Januari 1934 hingga 18 Oktober 1938.

 

 

Berada di tempat pengasingan membuat Bung Karno lebih berpikir jernih tentang banyak hal.

Mulai dari mempelajari agama Islam lebih mendalam, belajar tentang pluralisme, hingga melakukan kegiatan melukis maupun menulis drama pementasan.

Selain itu, Soekarno juga suka merenung selama berjam-jam di sebuah taman di Kota Ende, tepatnya di bawah pohon sukun yang rindang.

Baca juga: Videonya Viral Baru Ada Kebijakan, Ini yang Terjadi di Ende: Ambulance Jenazah Terobos Sungai!

Buah dari renungan di bawah pohon sukun tersebutlah yang melahirkan tiap butir nilai kehidupan dalam Pancasila yang menjadi dasar negara Republik Indonesia. Itulah mengapa Kota Ende kerap disebut juga sebagai ‘Kota Pancasila’.

 

Destinasi Kaya Sejarah

Kini, taman yang dikenal dengan Taman Renungan Bung Karno atau Taman Renungan Pancasila menjadi salah satu destinasi wisata sejarah di Kota Ende.

Di sebuah taman yang berlokasi di Kelurahan Rukun Lima ini, terdapat patung Bung Karno sedang duduk merenung di bawah pohon sukun sambil memandang ke arah laut.

Akan tetapi, pohon sukun tersebut bukanlah pohon asli yang selalu menemani Soekarno merenung selama masa pengasingan.

Baca juga: Bantah Isu Kerenggangan, Bambang Pacul: Jokowi Itu Dilahirkan PDIP, Dibidani Megawati

Pohon yang dikenal sebagai Pohon Pancasila tersebut merupakan pohon sukun yang baru ditanam pada 1981. Sebab, pohon yang asli sudah tumbang sejak 1960.

Tidak jauh dari Taman Renungan Pancasila, Sobat Parekraf bisa juga mengunjungi Rumah Pengasingan Bung Karno, tepatnya di Jalan Perwira, Kelurahan Kotaraja, Kecamatan Ende Utara, Kabupaten Ende.

Kondisi rumah yang menjadi tempat tinggal Soekarno selama masa pengasingan tersebut masih terawat sangat baik.

Saat berkunjung, Sobat Parekraf bisa melihat langsung ranjang, lemari, biola, lampu minyak, peralatan masak dan makan, hingga lukisan karya Bung Karno yang dipajang di dinding rumah tersebut.

 

 

Destinasi Wisata di Kota Ende

Selain Taman Renungan Pancasila dan Rumah Pengasingan Bung Karno, Kota Pancasila juga memiliki tempat wisata yang tidak kalah menarik.

Satu di antaranya adalah Danau Kelimutu atau kerap disebut sebagai Danau Tiga Warna.

Berada di Gunung Kelimutu, Danau Kelimutu memiliki tiga buah danau dengan warna air yang dapat berubah seiring berjalannya waktu.

Baca juga: Pesan Menyentuh Tukang Ojek: Pak Jokowi, Tolong Perhatikan Kami!

Menurut kepercayaan, setiap warna air dari danau tersebut memiliki makna serta kekuatan alam tersendiri.

Pertama, danau berwarna biru (Tiwu Nuwa Muri Koo Fai), yang dipercaya sebagai tempat berkumpul arwah orang yang meninggal di usia muda.

Kedua, air berwarna merah (Tiwu Ata Polo) adalah tempat berkumpul arwah orang yang berbuat jahat selama hidup.

Terakhir, air danau berwarna putih (Tiwu Ata Mbupu) sebagai tempat leluhur yang meninggal saat tua.

Selain ke Danau Kelimutu, Sobat Parekraf juga bisa berkunjung ke salah satu pantai yang tidak jauh dari pusat Kota Ende, yakni Pantai Mbu’u.

Daya tarik Pantai Mbu’u berupa pasir pantai hitam lembut dan pemandangan matahari terbit terbaik dengan latar belakang gunung serta lautan yang eksotis.

Untuk mengenal lebih dalam budaya di Kota Pancasila, Sobat Parekraf bisa berkunjung ke Kampung Adat Wologai.

Konon, usia kampung adat ini lebih dari 800 tahun! Daya tarik dari Kampung Adat Wologai adalah keunikan arsitektur bangunan berbentuk kerucut dan eksterior bangunan berupa ukir-ukiran mengisahkan keseharian masyarakat adat setempat. (*)

Artikel ini telah tayang di kemenparekraf.go.id dengan judul - Ende: Kota Penuh Sejarah Tempat Lahirnya Pancasila

Sumber: Tribun Papua
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved