Pengamat Nilai Koalisi PDIP-Demokrat Bisa Terjadi jika Mega Berdamai dengan SBY: Harus Jadi Teladan

Pengamat menilai koalisi PDIP-Demokrat bisa terjadi jika Megawati dan SBY mau mengikis keengganan berkomunikasi akibat dinamika politik di masa lalu.

TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono (kiri) berjabat tangan dengan Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri (kanan) saat pemakaman Ibu Ani Yudhoyono di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, Minggu (2/6/2019) - Pengamat menilai koalisi PDIP-Demokrat bisa terjadi jika Megawati dan SBY mau mengikis keengganan berkomunikasi akibat dinamika politik di masa lalu. 

TRIBUN-PAPUA.COM - PDIP dinilai lebih mungkin berkoalisi dengan Partai Demokrat ketimbang Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Penilaian itu disampaikan oleh Direktur Eksekutif Institute for Democracy and Strategic Affairs (Indostrategic) Ahmad Khoirul Umam mengatakan PDIP dan Demokrat sama-sama nasionalis sehingga tak ada hambatan dari segi ideologi partai.

Bersatunya PDIP dan Demokrat, kata Umum, hanya butuh itikad baik dari elite kedua partai yakni Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) 

"PDIP dan Demokrat sama-sama nasionalis dan juga dekat dengan elemen Islam moderat," kata Umam kepada Kompas.com, Rabu (13/7/2022).

Baca juga: Terbuka Kerja Sama dengan PDIP, Demokrat: Kalau Ada yang Bermasalah, Masalahnya Bukan di Demokrat

Momen langka SBY bersalaman dengan Megawati dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-74 Tentara Nasional Indonesia (TNI), Sabtu (5/10/2019).
Momen langka SBY bersalaman dengan Megawati dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-74 Tentara Nasional Indonesia (TNI), Sabtu (5/10/2019). (Twitter.com/@Demokrat_TV)

Umam mengatakan, jika ingin koalisi PDID dan Demokrat terbentuk maka Megawati dan SBY harus mau mengikis keengganan berkomunikasi akibat dinamika politik di masa lalu.

Diketahui, hubungan keduanya disinyalir renggang sejak Pemilu 2004.

Saat itu, Megawati yang menjadi calon presiden petahana kalah suara dari SBY yang akhirnya menggantikannya di kursi RI-1.

Menurut Umam, jika Megawati dan SBY sudah bisa saling memaafkan, maka koalisi PDIP dan Demokrat bukan lagi mimpi.

Koalisi keduanya juga bergantung pada kemampuan putra dan putri mahkota partai, Ketua DPP PDIP Puan Maharani dan Ketua Umum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), untuk menyudahi tradisi politik dendam.

Baca juga: Sambut Baik Rencana Safari Politik PDIP, Demokrat: Antara AHY dan Puan Tak Ada Penghalang Komunikasi

"Pemimpin besar politik harus menjadi teladan yang baik bagi generasi muda, dengan mengutamakan politik sinergi dan kolaborasi, bukan praktik politik yang menyemai dendam dan permusuhan," ujarnya.

Lain dengan PKS, menurut Umam, sulit bagi PDIP menjalin kerja sama dengan partai pimpinan Ahmad Syaikhu itu. Pasalnya, kedua partai memiliki perbedaan ideologi yang sangat ekstrem.

Masing-masing menempati posisi poros kutub ideologi yang berbeda, PKS di sayap kanan dan PDIP di sisi kiri.

"Relasi antara PDIP dan PKS ibarat air dan minyak, tidak mudah menyatukan karena memang ada garis perbedaan signifikan dalam pondasi ideologis keduanya," kata Umam.

Kendati demikian, tak ada salahnya ruang dialog antarpartai dibuka untuk menjembatani polarisasi antara keduanya.

Baca juga: Sebut Puan Ditugaskan Megawati Temui Ketum Semua Partai, Bambang Pacul Singgung Demokrat dan PKS

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved