PT Freeport Indonesia

Dukung Agenda G20, PT Freeport Indonesia Tekan Emisi Gas Rumah Kaca dengan Inovasi Teknologi

Sejak tahun 2019, PTFI telah beralih ke tambang bawah tanah dan menggunakan kereta api listrik rendah emisi untuk membawa biji hasil tambang

Editor: M Choiruman
ISTIMEWA
KERETA LISTRIK - PT Freeport Indonesia mendukung penerapan green economy dengan target pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 30 persen pada tahun 2030 melalui penggunaan sistem kereta listrik tanpa awak di tambang bawah tanah. 

TRIBUN-PAPUA.COM, JAKARTA - PT Freeport Indonesia (PTFI) secara konsisten mendukung agenda G20 pada 2022 dalam upaya menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK). Hal tersebut tersampaikan dalam dialog Bincang Dua Puluh bertajuk Misi Keberlanjutan melalui Penurunan Emisi, Kamis (7/72022) di Jakarta yang bertepatan dengan presidensi Indonesia di rangkaian acara pertemuan G20 2022.

Kegiatan tersebut bersama Kompas, Climate Stewardship Working Group (CSWG) G20, Yayasan Kehati, Universitas Papua, dan pemerhati lingkungan, PT Freeport Indonesia (PTFI) sepakat untuk kolaborasi multipihak diperlukan dalam percepatan upaya mitigasi pengurangan emisi GRK di tingkat nasional dan global.

PT Freeport Indonesia Kembali Raih Penghargaan Sustainable Business Awards 2022

“PTFI percaya bahwa sektor swasta memegang peran penting untuk mendorong implementasi program pengurangan emisi GRK sebagai bagian dari komitmen perusahaan akan keberlanjutan,” ujar Presiden Direktur PTFI, Tony Wenas dalam paparan keynote speech yang membuka dialog Bincang Dua Puluh.

Lebih lanjut dia mengatakan, PTFI memiliki strategi iklim untuk mendukung ekonomi hijau dan memberikan nilai tambah bersama bagi para pemangku kepentingan, sehingga sepenuhnya mendukung target pemerintah di presidensi G20 2022 untuk mencapai emisi nol (zero emission) pada 2060.

“Semoga momentum ini dapat menjadi wadah transformasi untuk mewujudkan dunia yang bebas dari emisi GRK,” terangnya.  

Jelang Tampil di Playoff IBL 2022, NSH Mountain Gold Timika Butuh Sponsor dari PT Freeport Indonesia

Tuntutan masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan terkait energi terbarukan dan upaya penurunan emisi GRK semakin mendorong perusahaan seperti PTFI untuk terus berinovasi dan bertransformasi.

“Kami akan selalu terbuka untuk menjalin kemitraan strategis sekaligus mengeksplorasi upaya lain yang dapat menghasilkan nilai tambah bagi berbagai pemangku kepentingan,” paparnya.

Sebelumnya, PTFI telah berkomitmen untuk mengurangi emisi GRK sebesar 30 persen pada tahun 2030 dalam kesempatan di Conference of the Parties (COP) ke-26 di Glasgow, Skotlandia, Britania Raya.

PT Freeport Indonesia Siap Kucurkan Dana Sponsor Rp4 Miliar untuk Persipura

Komitmen tersebut dengan upaya perusahaan menyediakan pasokan tembaga untuk menyokong penggunaan teknologi ramah lingkungan di berbagai industri.

Penggunaan energi terbarukan yang kini aktif digencarkan berbagai pelaku industri akan membutuhkan tembaga lebih banyak, sehingga PTFI akan menyeimbangkan peningkatan produksi tembaga sejalan dengan dukungan perusahaan untuk menjalankan ekonomi hijau.

Meski demikian, PTFI menekankan bahwa upaya keberlanjutan yang perusahaan telah jalankan perlu didukung dengan kemitraan dan sinergi multipihak sehingga target keberlanjutan dapat tercapai secara optimal.

PT Freeport Indonesia Dukung BKSDA Lepasliarkan Satwa Endemik Papua, Labi-labi dan Burung Kasuari

Para pembicara dialog Bincang Dua Puluh pun sepakat kolaborasi multipihak merupakan salah satu solusi untuk menjawab permasalahan emisi GRK yang kian meningkat dari tahun ke tahun.

“Kolaborasi pemerintah, sektor bisnis, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) berperan penting dalam mencegah bencana krisis iklim dan mencapai target nasional untuk mengurangi emisi GRK sebesar 29 persen pada tahun 2030. Upaya yang telah PTFI jalankan selama ini sepatutnya menjadi tolak ukur bagi para pemangku kepentingan lainnya agar dapat menyeimbangkan aktivitas bisnis dan dampak lingkungan, sekaligus bergerak dan mengambil peran untuk mencapai target keberlanjutan,” ucap Ketua CSWG G20, Laksmi Dewanthi.

Makmeser Kafiar Terpilih Menjadi Ketua FPE KSBI PT Freeport Indonesia, Ini Janjinya

Lebih lanjut, upaya keberlanjutan PTFI dalam mendorong penurunan emisi GRK mencakup transformasi di berbagai lini operasional perusahaan.

“Sejak tahun 2019, PTFI telah beralih ke tambang bawah tanah dan menggunakan kereta api listrik rendah emisi untuk membawa biji hasil tambang,” papar Vice President Environmental PTFI, Gesang Setyadi.

Lebih lanjut dia menjelaskan, PTFI juga telah mendapatkan izin untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Minyak dan Gas (PLTMG) yang dapat dioperasikan dengan biodiesel sekaligus menggantikan bahan bakar pembangkit listrik bertenaga batu bara menjadi liquefied natural gas (LNG), sehingga lebih efisien dan ramah energi.

PT Freeport Indonesia Bantu Modal Usaha Sebesar Rp612 Juta untuk 30 Pengusaha Muda Papua

Jika upaya ini terus dilanjutkan dan mendapatkan dukungan dari pemangku kepentingan lainnya, PTFI diperkirakan dapat melampaui target penurunan emisi GRK hingga 50 persen sebelum tahun 2030.

Dalam lingkup program lingkungan, PTFI sudah menjalankan program reboisasi di lahan seluas 3 ribu hektare dan penanaman 5 juta pohon, yang telah berkontribusi terhadap penyerapan karbon.

Selain itu, PTFI di tahun ini juga berencana untuk menjalankan reboisasi dan menanam pohon di lahan seluas 3.810 hektare di Jayapura. Pencapaian ini selanjutnya akan dilengkapi dengan penerbitan rencana operasional dan aksi mitigasi yang terkait dengan kehutanan dan pemanfaatan lahan. (**)

Sumber: Tribun Papua
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved