Pemprov Papua

Papua Kekurangan Obat Malaria, dr Beeri Wopari: Faskes Harus Selektif!

dr Beeri Wopari meminta kepada fasilitas kesehatan di tingkat kabupaten/kota, agar selektif  menyalurkan obat Malaria bagi pasien.

Tribun-Papua
Kepala Unit Pelaksana Tekniks AIDS,TB, dan Malaria Dinas Kesehatan Provinsi Papua, dr Beeri Wopari. 

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA – Kepala Unit Pelaksana Teknis AIDS, TB dan Malaria Dinas Kesehatan Provinsi Papua, dr Beeri Wopari meminta kepada fasilitas kesehatan di tingkat kabupaten/kota, baik itu puskesmas maupun rumah sakit, agar selektif  menyalurkan obat Malaria bagi pasien.

Hal ini disampaikan guna mengantisipasi kekurangan obat Malaria.

“Perlu dilakukan pemeriksaan Malaria untuk pastikan benar atau tidak pasien sakit Malaria.”

“Itu langkah pertama yang harus diambil," kata Kepala Unit Pelaksana Teknis AIDS, TB dan Malaria Dinas Kesehatan Provinsi Papua, dr Beeri Wopari, di Jayapura, Jumat, (15/7/2022).

Kemudian, langkah selanjutnya, Dineks Papua pengendalian obat Malaria dari sistem manajemen logistik.

Baca juga: Stok Obat Malaria Menipis, Khairul Lie Sarankan Obat Kina Sebagai Pengganti

Demikian, dapat dilakukan pemetaan sebaran obat anti malaria yang tersebar di tingkat kabupaten/kota.

"Kita lihat berdasarkan jumlah kasus. Kalau obatnya masih lebih, maka direlokasi dari provinsi ke wilayah yang membutuhkan," katanya

Baca juga: Berantas Malaria, Dinkes Papua Barat Latih 92 Masyarakat Manokwari

Diakui dr Beeri bahwa terdapat daerah yang belum dapat memberikan pengobatan Malaria dalam satu-dua bulan belakangan ini karena kekurangan obat.

Adapula daerah di mana pasien berobat bukan karena sakit Malaria.

"Misalnya di Timika mereka temukan ada yang sakit Malaria, maka dipakai strategi relokasi masih bisa tercukupi stok obat Malaria,” tambahnya.

Baca juga: Cuaca Ekstrem di Merauke, Dinas Kesehatan Antisipasi KLB Demam Berdarah dan Malaria

Kabar baiknya, sambung dr Beeri, Dinkes Papua mengonfirmasi stok obat Malaria masuk ke Indonesia dan diteruskan ke Papua pada minggu kedua bulan Juli ini.

"Obat Malaria kita ini berasal dari Cina. Selain perjalanannya cukup jauh, masalah situasi negara produksi itu juga sangat berpengaruh," katanya

Adapun dr Beeri mengingatkan masyarakat selalu berupaya agar tidak sakit Malaria dan Demam Berdarah (DBD), penyakit ISPA (Insfeksi Saluran Pernapasan Akut) dan penyakit lainnya.

"Artinya, jangan sudah sakit lalu berharap dapat obat. Harusnya masyarakat ingat jaga agar tidak sakit. Pertahankan hidup bersih dan sehat itu harus kita ke depankan," katanya. (*)

Sumber: Tribun Papua
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved