Info Merauke

Pernikahan Dini di Merauke Melejit, Ini Penyebabnya!

Pernikahan dini di Kabupaten Merauke, Papua melejit setiap tahunnya. Tahun lalu, tercatat sebanyak 900-an usia remaja melakukan pernikahan dini.

Penulis: Hidayatillah | Editor: Roy Ratumakin
Tribun-Papua.com/Hidayatillah
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Merauke, Delsiana Gebze saat sosialisasi kepada kepala distrik, kepala kampung dan pemangku kepentingan dari 10 distrik di Merauke, Papua di Hotel CareInn, Senin (8/8/2022). 

Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Hidayatillah

TRIBUN-PAPUA.COM, MERAUKE - Pernikahan dini di Kabupaten Merauke, Papua melejit setiap tahunnya. Tahun lalu, tercatat sebanyak 900-an usia remaja melakukan pernikahan dini.

"Data tahun ini saya tidak hafal, namun pernikahan dini di Merauke memang tinggi. Ada 900-an orang melakukan pernikahan dini satu tahun kemarin," kata Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Merauke, Delsiana Gebze kepada wartawan di Hotel Care Inn, Senin (8/8/2022).

Dia menjelaskan, jumlah ratusan pernokahan dini itu baru didapat dari data Kantor Urusan Agama (KUA) Kabupaten Merauke, belum dari gereja dan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Merauke.

Baca juga: Temannya Dinikahkan dengan Tokoh Agama, Siswi SMP di Maluku Gelar Aksi Tolak Pernikahan Dini

"Data itu dari KUA terbanyak pernikahan dini terjadi di wilayah eks transmigrasi. Belum ada dari gereja dan Capil, saya yakin penduduk lokal pasti ada. Hanya secara data belum dilaporkan," ujarnya.

Perempuan Papua suku Marind (penduduk asli Merauke) ini mengungkapkan, banyak faktor menjadi penyebab pernikahan dini di Merauke.

 

 

"Pertama, penyebabnya karena dibeberapa wilayah eks transmigrasi mereka bilang melepaskan tanggungjawab ekonomi kepada anak," katanya.

Selain itu, sambung Dia, kebutuhan ekonomi dan pemahaman anak remaja yang kurang tentang kesehatan reproduksi.

Terparah, kata Delsiana Gebze, akibat kecelakaan atau hamil diluar nikah. Rata-rata pelaku pernikahan dini masih berusia remaja 15-16 tahun yang mengajukan dispensasi nikah ke Pengadilan Agama (PA) Merauke.

Baca juga: Kunjungan Dubes Vatikan ke Kabupaten Merauke Jadi Penangkal Cerita Papua Tak Aman

"Biasa yang darang ini sudah hamil karena takut aib keluarga terbongkar. Tetapi kami dari dinas, tetap merekomendasikan menunggu cukup umur. Kita tidak bisa bilang menikah diusia 15-16 tahun," ujarnya.

Delsiana Gebze mengakui, perlu peran semua pihak untuk sosialisasi tentang kesehatan reproduksi. Berdasarkan peraturan baru Undang-Undang (UU) Nomor 16 Tahun 2019 revisi UU Nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan.

Menurutnya, perkawinan dibolehkan bagi anak-anak perempuan minimal dan matang berusia 20 tahun, sedangkan laki-laki 21 tahun.

"Semua stakeholder harus sosialisasi, selain tanggungjawab keluarga. Kepala kampung dan kepala distriknya melalui bagian kesra harus kuat," tandas Delsiana Gebze. (*)

Sumber: Tribun Papua
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved