Pendidikan

Ospek Maba ala Militer, Maiton Gurik: di Asia Tes Intelektual, Kita di Papua Masih Merayap!

Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) atau Ospek di kalangan universitas di Provinsi Papua dinilai perlu diubah dengan pola modern.

Istimewa
CEO & FOUNDER, Lembaga Riset Ekonomi Politik (Lempar) Papua Maiton Gurik menilai Ospek di setiap Universitas di Papua harus diubah ke pola yang lebih baik biar semakin maju. 

Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Hendrik Rewapatara

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA – Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) atau Ospek di kalangan universitas di Provinsi Papua dinilai perlu diubah dengan pola modern lebih maju.

Hal itu disampaikan CEO & FOUNDER Lembaga Riset Ekonomi Politik (Lempar) Papua, Maiton Gurik, Rabu (10/8/2022).

"Ospek itu kegiatan serimonial yang hanya melahirkan mahasiswa pragmatis. Sudah mesti hilangkan kegiatan ospek dari kampus-kampus," kata Maiton saat di hubungi Tribun-Papua.com, Rabu, via telepon.

Baca juga: Video Ospek Maba Dibentak Senior Viral, Unesa Angkat Bicara: Ada Kesalahan Koordinasi

Maiton mengatakan, untuk mahasiswa baru, ujinya adalah kapasitas intelektual bukan tes mental dan fisik.

"Tes mental dan fisik itu di pendidikan militer. Bukan di kampus," ujarnya.

Menurut Maiton, kampus jangan ciptakan gaya militer ala ABRI.

 

 

"Kampus di negara Asia yang lain, mahasiswa barunya tes kapasitas intelektual dan menguji daya tangkap berpikir. Kita di Papua ini masih kasih merayap mahasiswa baru di pecek dan di tanah," sesalnya.

Kata Maiton, dari sistem ospek ala militer, apa yang didapat oleh mahasiswa baru tersebut? Menurut Milton, mahasiswa yang baru tersebut malah menderita secara fisik hingga mengakibatkan sakit.

"Kadang ada yang masuk rumah sakit, lantaran terpapar panas hingga demam. Ini fakta yang kita ikuti dan lihat selama ini," ujarnya.

Menurut Maiton, pihak Kampus di Jayapura, mestinya sudah harus renovasi diri, termasuk hilangkan orientasi pengenalan kampus (ospek).

"Ospek itu hanya melahirkan kesombongan dan keangkuhan senior terhadap junior. Menguras uang milik mahasiswa baru, materinya lebih banyak fisik ketimbang menguji kapasitas intelektual mahasiswa baru," tandasnya. (*)

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved