Harga BBM Resmi Naik

Warga Keluhkan Penyerobot BBM Subsidi di SPBUN Lampu Satu Merauke Papua

Warga Binaloka Lampu Satu Merauke mengeluhkan adanya penyerobotan BBM subsidi di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum Nelayan (SPBUN) Lampu Satu Merauke

Penulis: Hidayatillah | Editor: Roy Ratumakin
Tribun-Papua.com/Hidayatillah
Seorang warga Binaloka Lampu Satu Merauke, Papua yang kesehariannya sebagai nelayan, Nurtindri (60) disela-sela kesibukannya. 

Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Hidayatillah

TRIBUN-PAPUA.COM, MERAUKE - Warga Binaloka Lampu Satu Merauke mengeluhkan adanya penyerobotan Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum Nelayan (SPBUN) Lampu Satu Merauke, Papua akhir-akhir ini.

Seorang warga Binaloka Lampu Satu Merauke yang kesehariannya sebagai nelayan, Nurtindri (60) kepada Tribun-Papua.com mengungkapkan, penyerobot BBM subsidi itu bukanlah nelayan.

"Sekarang di SPBUN sudah terlalu banyak yang datang menguasai minta BBM subsidi. Dia cuma datang serobot masuk minta BBM padahal bukan nelayan," katanya disela-sela kesibukan, Selasa (13/9/2022).

Baca juga: Aliansi Mahasiswa Merauke Desak DPRD Buat Pernyataan Sikap Menolak Kenaikan Harga BBM

"Kalau tidak dikasih (BBM subsidi, red) malah lebih kacau, bikin ribut. Itu yang mengganggu kita nelayan," sambung Nurtindri.

Dia mengakui, pelayanan oleh pihak SPBUN Lampu Satu Merauke sangat baik kepada konsumen.

 

 

Hanya saja pihak-pihak penyerobotlah yang mengganggu dan merebut hak nelayan.

"Pelayanannya di SPBUN sangat bagus cuma kita saja yang artinya konsumen-konsumen yang membeli ini banyak. Bukan nelayan juga banyak," beber Nurtindri.

Baca juga: BBM Naik Harga, Steve Mara: Langkah Pemerintah Sudah Tepat!

Dikatakan, akibat datangnya penyerobot BBM subsidi, nelayan pun hanya mendapatkan jatah terbatas.

"Kalau SPBUN memberikan tergantung kita minta berapa dilayani, tapi kalau banyak pemohon/peminta yang datang antrean. Nah itu sudah kita nelayan jadi dapat terbatas," ujarnya.

"Diratakan semua kalau 200 liter, semua dapat 200 liter. Sebenarnya nelayan tidak bisa disamakan terbatas karena kita hak pakai," tandas Nurtindri. (*)

Sumber: Tribun Papua
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved