Kasus TNI Mutilasi Warga di Mimika, Komnas HAM: Direncanakan Beberapa Kali hingga Sempat Tertunda

Sejumlah oknum TNI pelaku mutilasi terhadap empat warga di Mimika, Papua, sudah merencanakan aksi mereka beberapa kali.

Tribun-Papua.com/Marselinus Labu Lela
Rekontruksi kasus mutilasi yang mengakibatkan empat warga Kabupaten Nduga dilakukan di tiga tempat kejadian perkara (TKP) - Sejumlah oknum TNI pelaku mutilasi terhadap empat warga di Mimika, Papua, sudah merencanakan aksi mereka beberapa kali. 

TRIBUN-PAPUA.COM - Sejumlah oknum TNI pelaku mutilasi terhadap empat warga di Mimika, Papua, sudah merencanakan aksi mereka beberapa kali.

Temuan mengenai fakta tersebut disampaikan oleh Komisioner Komnas Hak Asasi Manusia bidang Penyelidikan dan Pemantauan Choirul Anam.

Anam juga mengatakan bahwa rencana para pelaku sempat tertunda sebelum akhirnya dieksekusi kembali.

Baca juga: Komnas HAM Didesak Tetapkan Kasus Mutilasi di Timika Papua Sebagai Pelanggaran HAM Berat

Tampak susanan rekontruksi kasus mutilasi empat warga Nduga di Jalan Budi Utomo Timika, Mimika, Papua, Sabtu (3/9/2022).
Tampak susanan rekontruksi kasus mutilasi empat warga Nduga di Jalan Budi Utomo Timika, Mimika, Papua, Sabtu (3/9/2022). (Tribun-Papua.com/ Marcel)

"Perencanaan sudah dilakukan beberapa kali oleh para pelaku, sempat terjadi penundaan waktu pertemuan dengan korban," kata Anam dalam konferensi pers di Kantor Komnas HAM, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (20/9/2022).

Para tersangka yang berjumlah sepuluh orang, terdiri dari prajurit TNI dan sipil, sempat berencana menghabisi korban pada 20 Agustus 2022.

Akan tetapi, rencana tersebut tertunda karena suatu hal dan kembali direncanakan untuk dieksekusi pada 22 September 2022.

Selain ditemukan adanya unsur perencanaan pembunuhan, Komnas HAM juga menemukan adanya senjata rakitan yang dimiliki oleh salah satu pelaku dari unsur TNI.

Baca juga: Ini 6 Tuntutan Dewan Adat Suku-suku Papua Terkait Penanganan Kasus Mutilasi di Timika

"Satu pelaku anggota TNI memiliki senjata rakitan dan diketahui oleh pelaku berpangkat Mayor. Pada 2019 silam pernah diungkap adanya penjualan amunisi oleh anggota Brigif R 20/IJK/3," kata Anam.

Temuan lainnya, salah satu pelaku ternyata mengenali korban dan sempat bertemu.

Komnas HAM juga menemukan fakta para pelaku melakukan mutilasi dengan sengaja untuk menghilangkan jejak kejahatan mereka.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved