Kongres Masyarakat Adat

Goa Jepang Peninggalan Perang Dunia II dan Telaga Kerewai yang Sakral di Kampung Dondai

Goa Jepang yang berada di Teluk Yope itu adalah tempat persembunyian tentara Jepang yang dipukul mundur tentara sekutu Amerika pada Perang Dunia II.

Tribun-Papua.com/Istimewa
WISATA - Goa Jepang Peninggalan Perang Dunia II di Kampung Dondai, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura 

TRIBUN-PAPUA.COM, SENTANI - Kampung Dondai di Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura memiliki sejumlah spot wisata dan kisahnya menarik untuk ditelusuri.

Selain Bukit Yotoro yang memanjakan kita dengan keindahan Danau sentani, ada dua spot wisata lainnya, yaitu Goa Jepang dan Telaga Kerewai yang sakral.

Menurut cerita warga setempat, goa yang berada di Teluk Yope itu adalah tempat persembunyian tentara Jepang yang dipukul mundur tentara sekutu Amerika pada Perang Dunia II.

Baca juga: Tanjung Tunung, Spot Cuci Mata Peserta Sarasehan saat Kongres Masyarakat Adat Nusantara

Kepala Kampung Dondai, Yosis Daimoe mengatakan, pada Perang Dunia II setelah tentara Jepang melarikan diri akibat serangan sekutu Amerika, goa itu kosong.

Kemudian, warga kampung menggunakan goa itu untuk berlindung dari serangan bom Amerika.

Menurutnya, Goa Jepang yang berada di sebelah barat Kampung Dondai itu juga pernah menjadi tempat persinggahan Presiden Republik Indonesia pertama, Soekarno.

Sosok berkarisma itu juga dikisahkan pernah mandi menggunakan air dari sumur yang letaknya tidak jauh dari goa tersebut.

“Kedalaman sumur itu kurang lebih 6 sampai 7 meter dan sumurnya tidak pernah kering, selalu ada airnya," ujarnya di Kampung Dondai, Kamis (22/9/2022).

Keberadaan Goa Jepang ini belum banyak diketahui orang karena mayoritas pengunjung yang datang ke sana hanyalah warga setempat yang penasaran akan keberadaan goa.

Berbeda dengan Telaga Kerewai di sebelah barat Kampung Dondai.

Telaga alami yang  dianggap sakral oleh masyarakat setempat karena menyimpan misteri yang belum terkuak hingga saat ini.

Masyarakat di sana percaya bahwa di telaga tersebut dijaga oleh sesosok buaya putih berkepala manusia yang sering menampakan wujudnya.

Baca juga: Kampung Yakonde Siap Tampilkan Makanan Lokal Saat Kongres Masyarakat Adat

Menjadi tempat yang sakral, pengunjung yang akan kesana wajib meminta izin terlebih dahulu dengan Ondofolo Kampung Dondai agar terdindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

“Masyarakat pernah melihat, makanya telaga itu dijadikan tempat yang sakral dan tidak boleh dirusak apa lagi mengambil barang dari sekitar telaga itu, tutu Yosis.

Di Telaga Karawei itu juga hidup beberapa jenis ikan.

Di antaranya Mujair, Gastor dan Gabus Merah yang merupakan spesies ikan endemik di Danau sentani yang mulai langka membuat spot wisata ini wajib untuk dikunjungi. (*)  

Sumber: Tribun Papua
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved