Penganiayaan di Mappi

Komnas HAM Beberkan 18 Prajurit TNI Tersangka Penganiayaan di Mappi Papua, Danrem: Masih Penyidikan

Kami masih mendalami peran 18 tersangka. Apakah sama semuanya melakukan penganiayaan sampai meninggalnya orang atau bagaimana

Penulis: Syarif Jimar | Editor: M Choiruman
Tribun-Papua.com/Hidayatillah
Danrem 174/ATW Merauke Brigjen TNI E Reza Pahlevi didampingi Dandim 1707/Merauke, Letkol CZi Muh Rois Edy Susilo, Dansatgas Satuan Organik Yonif Raider 600/Modang, Mayor Inf Karuniawan Hanif Arridho di Pelabuhan Yos Sudarso Merauke, Papua, Sabtu (28/5/2022). 

Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Hidayatillah

TRIBUN-PAPUA.COM, MERAUKE - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) membeberkan, 18 anggota TNI menjadi tersangka kasus penganiayaan di Kabupaten Mappi, Provinsi Papua pada awal akhir Agustus lalu. 

Pernyataan itu disampaikan Komnas HAM saat menerima kunjungan para anggota Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP) di Kantor Komnas HAM di Jakarta, Senin (26/9/2022).

Baca juga: Warga Mappi Papua Tewas Dianiaya, Komnas HAM Periksa 18 Prajurit TNI

"Kami masih mendalami peran 18 tersangka. Apakah sama semuanya melakukan penganiayaan sampai meninggalnya orang atau bagaimana. Ini yang juga sedang kami dalami 18 tersangka ini," ujar Komisioner Komnas HAM Choirul Anam, Gedung Komnas HAM di Jakarta, Senin (26/9/2022).

Sementara itu, Komandan Korem 174/ATW Merauke, Brigjen TNI E Reza Pahlevi saat dikonfirmasi Tribun-Papua.com, Senin (26/9/2022) malam mengatakan, 18 prajurit TNI, ll Yonif 600/Modang yang diduga terlibat penganiaya warga di Distrik Edera, Kabupaten Mappi, Bruno (31/8/2022) lalu sudah dibawa ke Kabupaten Merauke, Provinsi Papua sejak pekan lalu. 

Baca juga: Oknum TNI Aniaya Warga di Mappi Papua Hingga Tewas, DPP IMPPAS: Pangdam Harus Tegas!

Saat ini 18 prajurit yang diduga tersangka terus dilakukan penyidikan di Detasemen Polisi Militer (Denpom) XVII/3 Merauke melalui Asiki.

"18 orang sekarang ada di Denpom. Kemarin Komnas HAM sudah datang melihat tentang hasil dari pemeriksaan kita," tuturnya.

Danrem menjelaskan, Komnas HAM melihat masalah prosedural, tidak berbicara secara hukum.

Brigjen TNI E Reza Pahlevi menegaskan, pihaknya tidak akan menutup-nutupi pemeriksaan kasus tersebut dan proses hukum berlanjut. 

Baca juga: Warga Mappi Tewas di Tangan TNI, Anggota DPR Papua Layangkan Ultimatum: Begini Kronologinya

"Kalau memang anggota tersebut nantinya betul-betul terbukti ya kita sampaikan apa adanya. Memang sampai saat ini faktanya ada yang meninggal di Pos. Tinggal mana pasal yang bisa memberatkan bagi prajurit," ungkapnya.

"Siapa dari 18 orang itu yang memukul, akan didalami. Kemarin dari Puspomad datang. Mulai dari internal bawah sampai pucuk pimpinan berusaha tetap memberikan tindakan hukuman sesuai yang berlaku," sambung Danrem. 

Adapun hasil pemeriksaan atau penyidikan, sampai saat ini 18 orang di bawah pimpinan Wadanpos diketahui ada yang melakukan pemukulan fisik sekitar 8 orang.

Baca juga: Uskup Agung Merauke Kecam Oknum TNI AD yang Diduga Aniaya Warga Edera Mappi Papua

"Ada yang hanya sekadar tahu, datang bertanya. Karena kan malam hari secara bergantian (piket, red), ada yang tidak tahu," ujarnya. 

"Proses hukum tetap berjalan, walaupun kalau baca dari hasil perjanjian antara masyarakat dengan Pos sudah diganti rugi pada poin 5 dianggap masalah itu selesai setelah memberikan. Tapi walaupun sudah diberikan ganti rugu, tetap hukum kita berlakukan dan tindak tegas," lugas Danrem. Dia mengkui, situasi didaerah Mappi sudah kondusif. (*)

Sumber: Tribun Papua
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved