Kongres Masyarakat Adat

Sajian Olahan Sagu Jadi Kuliner Andalan dari Kampung Yoboi Saat KMAN

Pada satu pohon sagu dapat menghasilkan beberapa jenis olahan makanan. Mulai dari pucuk sagu yang diolah menjadi kripik atau es krim.

Tribun-Papua.com/Putri Nurjannah Kurita
Masyarakat Adat, Hanny Felle saat menunjukkan ulat sagu yang dipanen di Kampung Yoboi, Distrik Sentani sebagai kuliner saat Kongres Masyarakat Adat Nusantara ke-VI. 

Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Putri Nurjannah Kurita

TRIBUN-PAPUA.COM, SENTANI – Masyarakat Adat di Kampung Yoboi tengah mempersiapkan pangan lokal yang terbuat dari sagu, kuliner utama pada Kongres Masyarakat Adat Nusantara ke-VI di Kabupaten Jayapura.

Diketahui, sagu dan ikan merupakan komoditi andalan bagi masyarakat adat di Kampung Yoboi, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura. Satu pohon sagu mempunyai banyak manfaat mulai dari pucuk hingga akar.

Masyarakat Adat, Hanny Felle menjelaskan pada satu pohon sagu dapat menghasilkan beberapa jenis olahan makanan. Mulai dari pucuk sagu yang diolah menjadi kripik atau bubur, papeda, dan es krim.

Baca juga: Sambut KMAN, BTM Ajak Masyarakat Tabi Jaga Keamanan

Hanny yang sekaligus Pegiat Literasi di Kabupaten Jayapura mengatakan batang sagu yang ditebang dibiarkan selama kurang lebih tiga bulan akan menghasilkan Ulat Sagu.

"Ini makanan khas yang ditampilkan oleh masyarakat tertutama ibu-ibu," katanya di Kampung Yoboi, Distrik Sentani, Rabu (27/9/2022).

 

 

Hanny menyampaikan saat ini tokoh adat, pemerintah, dan agama terlibat untuk menyukseskan kongres. Pohon sagu yang disiapkan oleh masyarakat ditiap keluarga ada 15-20 pohon.

Menurutnya masyarakat secara turun temurun dapat memperhitungkan waktu panen dan memilih pohon sagu yang berkualitas baik.

Kampung Yoboi sebagai salah satu dari 14 Kampung Adat yang telah diakui oleh pemerintah beberpa waktu lalu menjadi salah satu lokasi sarasehan dan inap para tamu kongres.

Baca juga: Siap Sambut KMAN, Kampung Yokiwa Rampungkan Fasilitas Ibadah

Hanny mengungkapkan KMAN VI di Kabupaten Jayapura untuk mengangkat budaya dan kearifan lokal bagi masyarakat di kampungnya karena itu makanan asli yang selama ini dikonsumsi dan dikerjakan oleh masyarakat akan disediakan untuk tamu.

“Kami makan ulat sagu, kalian juga makan. Papeda. Jadi dari pucuk sagu sampai ke akar banyak yang kami pergunakan, dan olahan ini juga disiapakan untuk tamu,” ujarnya.

Selain ulat sagu dan ikan, masyarakat juga telah membuat bedeng untuk sayuran yang ditanam dengan menggunakan ampas sagu. (*)

Sumber: Tribun Papua
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved