Minggu, 10 Mei 2026

Sejarah

KILAS Piala Dunia 1978: Zico dan Gol yang Digagalkan Peluit Akhir Thomas Clive

Meski dicaci, wasit kontroversial yang memimpin laga final antara Brasil kontra Swedia pada 1978 itu mendapat pujian dari pencinta sepak bola.

Tayang:
Tribun-Papua.com/Istimewa
BOLA - Foto pemain Brasil Zico yang dirilis pada Maret 1978. (Photo by STRINGER / AFP)(AFP/STRINGER) 

TRIBUN-PAPUA.COM - Thomas Clive benar-benar membuat Piala Dunia 1978 kontroversial.

Meski dicaci, wasit kontroversial yang memimpin laga final antara Brasil kontra Swedia pada 1978 itu mendapat pujian dari pencinta sepak bola.

Sepak bola dan Piala Dunia memang kerap melahirkan cerita berbau kontroversi, baik di dalam maupun luar lapangan.

Bergitulah sejarah sepak bola, khususnya Piala Dunia atau FIFA World Cup.

Anda akan diajak untuk mengingat atau membuka kembali halaman sejarah Piala Dunia yang memuat momen ketika gol pemain Brasil, Zico, digagalkan peluit akhir.

Baca juga: KILAS Piala Dunia 1962: Garrincha Membumi dan Brasil Naik Takhta

Momen kontroversial nan bersejarah itu terjadi pada laga pertama fase grup Piala Dunia 1978 di Negeri Tango, Argentina.

Kala itu, Brasil mengawali perjuangan pada Piala Dunia 1978 dengan melawan Swedia di Estadio Jose Maria Minella, Mar del Plata, Argentina.

Ini menjadi pertemuan pertama antara Brasil dan Swedia di pentas Piala Dunia sejak kali terakhir bertanding pada final edisi 1958.

Brasil yang mampu memenangi final edisi 1958 menemui kesulitan ketika kembali bersua Swedia pada fase grup Piala Dunia 1978.

Bahkan, ketika kembali bertanding dalam fase grup Piala Dunia 1978, Brasil harus kebobolan lebih dulu akibat gol penyerang Swedia Thomas Sjoberg pada menit ke-37.

Brasil kemudian mampu menyamakan kedudukan melalui aksi Reinaldo pada menit ke-45, persis sebelum turun minum.

TIMNAS BRASIL - Skuad timnas Brasil berpose sebelum pertandingan final Piala Dunia 1962 melawan Cekoslowakia yang digelar di Stadion Nasional, Santiago, pada 17 Juni 1962. Dalam foto tersebut, Garrincha duduk jongkok di urutan kedua dari kiri. (Foto oleh AFP). (AFP)
TIMNAS BRASIL - Skuad timnas Brasil berpose sebelum pertandingan final Piala Dunia 1962 melawan Cekoslowakia yang digelar di Stadion Nasional, Santiago, pada 17 Juni 1962. Dalam foto tersebut, Garrincha duduk jongkok di urutan kedua dari kiri. (Foto oleh AFP). (AFP) (Tribun-Papua.com/Istimewa)

Pada babak kedua, Brasil terus menggempur pertahanan Swedia, tetapi gol tak kunjung datang hingga mendekati akhir laga.

Lalu, saat babak kedua menyisakan hitungan detik, Brasil mendapat sepak pojok.

Nelinho, seorang bek kanan, dipercaya menjadi eksekutor.

Kala bersiap mengambil sepak pojok, Nelinho tampak tidak terburu-buru meski laga tinggal menyisakan hitungan detik.

Dia juga sempat menempatkan bola di luar busur corner sebelum hakim garis asal Polandia, Alojzy Jarguz, menyuruhnya memindahkan bola ke posisi yang benar.

Pada saat bersamaan, Thomas Clive selaku wasit utama tampak memeriksa jam tangan yang ia kenakan.

Ketika Nelinho mengeksekusi sepak pojok, waktu di babak kedua telah menyentuh angka 45 menit lebih enam detik.

Pada saat itulah sebuah keputusan kontroversial lahir.

Kala bola mengudara, Thomas Clive meniup peluit panjang.

Lalu, dalam hitungan sepersekian detik, bola mampu disambar oleh Zico yang lolos dari penjagaan.

Bola hasil sundulan Zico pun masuk ke gawang Swedia.

Baca juga: Persipura Dipuji Persib Bandung bak Timnas Brasil: Malah Keok

Sejumlah pemain Brasil kemudian menyambut dengan gerakan selebrasi.

Namun, anehnya, para pemain Swedia, termasuk kiper Ronnie Hellstroem, tampak tenang menyikapi gol Zico.

Ternyata, mereka sadar bahwa wasit Thomas Clive telah meniup peluit panjang sebelum Zico menyambut bola.

Thomas Clive pun melambaikan tangan.

Dia menunjukkan isyarat yang berarti bahwa gol Zico tidak sah.

Para pemain Brasil yang sebelumnya melakukan selebrasi, sontak melancarkan protes kepada Thomas Clive.

Sementara itu, para pemain Swedia saling berpelukan untuk merayakan hasil imbang kontra Brasil.

Thomas Clive Bicara Blak-blakan, lalu Dipulangkan

Sebelum Piala Dunia 1978 dimulai, para wasit dikirimi sebuah kontrak yang menetapkan bahwa mereka tidak boleh berbicara kepada pers selama turnamen.

Thomas Clive menerima kontrak tersebut, tetapi menolak untuk menandatanganinya.

"Anda mengenal saya. Jika saya punya sesuatu untuk dikatakan, saya akan mengatakannya," kata Clive yang teguh pada pendiriannya, dikutip dari The Guardian.

Benar saja, setelah meniup peluit kontroversial pada laga Brasil vs Swedia, Thomas Clive berbicara kepada dua jurnalis asal Inggris.

"Saya melihat sundulan, tapi saya tidak melihat bola masuk ke gawang. Saya sudah berbalik badan," ujar Clive.

"Sejauh yang saya ketahui, pertandingan sudah berakhir. Para pemain Brasil seharusya menyalahkan diri sendiri. Mereka semestinya tidak membuang banyak waktu untuk mengambil tendangan sudut," tutur wasit asal Wales tersebut.

Setelah itu, Thomas Clive terbang ke Buenos Aires.

Keesokan harinya, dia dibangunkan oleh anggota komite wasit FIFA, Friedrich Seipelt. 

Friedrich Seipelt meminta Thomas Clive pulang ke Wales dan mengatakan kepada sang pengadil laga Brasil vs Swedia bahwa dia tidak akan pernah memimpin pertandingan Piala Dunia lagi.

The Guardian menulis, Thomas Clive sangat marah setelah mendengar perkataan Friedrich Seipelt.

Terlebih lagi, Thomas Clive memiliki keinginan besar untuk memimpin final Piala Dunia 1978.

Baca juga: Pele Sukses Jalani Kemoterapi, Ini Pesan Cristiano Ronaldo ke Legenda Brasil

Akan tetapi, keinginan tersebut pupus, bahkan setelah Thomas Clive memimpin laga pertama fase grup.

Thomas Clive kemudian tetap berkarier sebagai wasit hingga 1984.

Dia terus memegang teguh keputusannya yang menggagalkan gol Zico.

"Zico sudah terlambat. Mungkin hanya terlambat empat persepepuluh detik, tapi tetap saja terlambat," tutur Thomas Clive menegaskan. (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "50 Hari Jelang Piala Dunia 2022: Saat Gol Zico Digagalkan Peluit Akhir...", 

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved