Mutilasi di Mimika

Demo Kasus Muilasi di Mimika, DPC-IPMI: Ingat Sila Kedua Pancasila!

Pendemo juga meminta pimpinan tertinggi TNI-Polri agar tidak membawa persidangan itu dalam sidang militer dan mendesak peradilan umum.

Tribun-Papua.com/Putri Nurjannah Kurita
Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Nduga (DPC-IPMI) Jayapura dan Mahasiswa Papua Bersama Rakyat Papua berorasi di Jalan Pos VII Sentani, Distrik Sentani Kota, Kabupaten Jayapura, Selasa (4/10/2022). 

Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Putri Nurjannah Kurita

TRIBUN-PAPUA.COM, SENTANI – Dewan Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Nduga (DPC-IPMI) Jayapura dan Mahasiswa Papua Bersama Rakyat Papua turun ke jalan mengingatkan negara soal sila Kedua Pancasila.

Hal ini dilakukan agar para pelaku kasus mutilasi di Kabupaten Mimika terhadap warga Kabupaten Nduga bisa sadar akan perbuatannya.

Aksi turun jalan tersebut dilakukan di Jalan Pos VII Sentani, Selasa (4/10/2022).

Baca juga: Mahasiswa Nduga: Pelaku Mutilasi Berwatak Predator!

Dalam aksi tersebut, massa pendemo membawa sejumlah spanduk yang berisi mendesak Presiden Joko Widodo (Jokwi) segera menyelesaikan pelanggaran HAM berat di Tanah Papua.

Selain itu juga, para pendemi meminta Komnas HAM RI agar pelaku yang terdiri dari enam orang anggota TNI segera di percepat prosesnya.

 

 

Pendemo juga meminta pimpinan tertinggi TNI-Polri agar tidak membawa persidangan itu dalam sidang militer dan mendesak peradilan umum di tetapkan di Timika.

"Seperti kasus Paniai yang berlarut-larut kami tidak terima. Kami generasi muda tidak percaya undang-undang. Korban mutulasi ini tuntutan kami, TNI selesaikan," kata seorang mahasiswa dalam orasinya.

Baca juga: Demo Kasus Mutilasi di Mimika, Aktivitas Perekonomian di Jayapura dan Lalu Lintas Normal

Dalam orasi tersebut, mahasiswa juga menyebut sesuai dengan sila kedua Pancasila yakni Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab maka sepantasnya mendapatkan keadilan atas kasus mutilasi di Mimika.

"Mutilasi kembali terjadi di 2022 setelah sebelumnya pada 1963 kala aneksasi tetapi tidak pernah terbuka, saat ini baru terbuka."

"Aparat keamanan negara, TNI pelindung pengaman negara, kemanusiaan dianggap seperti daging yang dipotong."

Pantauan Tribun-Papua.com, massa aksi saat ini memblokir jalan menuju Pos VII Sentani dan duduk di badan jalan. (*)

Sumber: Tribun Papua
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved