Papua Terkini

Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, Yoke Felle: Kita Harus Berani Bersuara

Puncak kampanye diisi dengan panggung untuk mencakan puisi, orasi hak-hak perempuan, pemutaran film, dan pameran foto.

Tribun-Papua.com/Putri Nurjannah Kurita
KAMPANYE - Foto bersama Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan di Asrama Yahukimo, Waena, Distrik Yabansai, Kota Jayapura, Sabtu (26/11/2022). 

Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Putri Nurjannah Kurita

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap perempuan dorong pendidikan bagi perempuan dan laki-laki untuk belajar dan bergerak bersama.

Adapun tema kali ini "Perempuan Papua dalam Cengkraman Kolonialisme Kapitalisme dan Imprelialisme."

Kampanye berlangsung di Asrama Yahukimo, Waena, Kota Jayapura.

Koordinator Komite Perayaan Kampanye Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, Yoke Felle mengatakan diskusi ke-5 dilakukan bersama kalangan mahasiswa dan organisasi gerakan.

Puncak kampanye diisi dengan panggung untuk mencakan puisi, orasi hak-hak perempuan, pemutaran film, dan pameran foto.

Baca juga: Perempuan Top Viralkan Perdamaian Dinilai Berdampak Positif Bagi Kaum Ibu di Kabupaten Jayapura

Sebagai aktivis perempuan, Yoke menilai kesempatan perempuan untuk mengeyam pendidikan jauh lebih sedikit dibandig laki-laki.

Misalnya, dalam sebuah diskusi lebih aktif berbicara adalah laki-laki sementara perempuan diam dan sulit untuk menyampaikan pendapat bahkan tidak mampu berdebat.

Karena itu, pendidikan bersama mendorong perempuan untuk bisa berbicara dan tampil untuk menyatakan pendapatnya.

"Situasi saat ini perempuan masih diam karena konteks di Papua, misalnya dalam ruang-ruang adat dimana perempuan dibatasi haknya untuk berbicara, seperti kami di Sentani," ujarnya, Sabtu (26/11/2022).

Menurutnya, mendidik perempuan bukan berarti mengajar tapi diskusi bersama dengan laki-laki juga untuk bergerak bersama untuk menyadari akar permasalahan dan liberalisme.

Dalam sesi pemutaran film berjudul 'Sa Ada di Sini' dan 'Surat untuk Sang Prada', Yoke menceritakan kondisi perempuan dari lima daerah yang berbeda-beda.

Hal itu jadi pelajaran penting bagi peserta karena mereka akhirnya bisa melihat kondisi perempuan dari Jayawijaya, Keerom, Merauke, dan Sorong.

"Di dalam film menceritakan persoalan berbeda namun akar masalahnya sama," ujarnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Papua
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved