Papua Terkini

Pengungsi di Yapen Papua Diduga Berafiliasi dengan Kelompok Tertentu, Polisi: Cari Perhatian

Video dan foto viral di WA memperlihatkan warga Kepulauan Yapen Papua sedang mengungsi ke tengah hutan. Ada 61 orang yang terdiri dari anak dan dewasa

Tribun-Papua.com/Istimewa
Kapolres Kepulauan Yapen, AKBP Herzoni Saragih, menanggapi video dan foto yang beredar di media sosial terkait pengungsi yang diduga berafiliasi dengan kelompok tertentu. 

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Sebuah WhatsApp grup dihebohkan dengan beredarnya video dan foto yang memperlihatkan sekelompok warga Kaonda, Distrik Windesi, Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua.

Video dan foto tersebut memperlihatkan warga sedang mengungsi di tengah hutan.

Pengungsian tersebut diduga lantaran aksi penyisiran aparat gabungan pada 1 Desember 2022 lalu.

Dalam postingan tersebut tercatat ada 61 orang yang terdiri dari anak dan orang dewasa.

Baca juga: 3 Tukang Ojek Tewas Dibantai KKB di Pegunungan Bintang, Nason Mimin Disebut Otak Pembunuhan

Kapolres Kepulauan Yapen, AKBP Herzoni Saragih, ketika dikonfirmasi membantah adanya penyisiran aparat gabungan di Kampung Kaonda Distrik Windesi.

Menurut keberadaan dan aparat gabungan beberapa waktu lalu di kampung tersebut tidak lain untuk melakukan patroli rutin.

Patroli itu dilakukan untuk menjaga kamtibmas dan memberikan rasa aman serta nyaman kepada masyarakat.

"Kami hadir untuk memberikan rasa aman. Itu bukan penyisiran atau operasi militer. Bahkan kehadiran kami disana disambut masyarakat dengan hangat," kata Saragih melalui keterangan persnya, Kamis (8/12/2022).

Terkait dengan pengungsi itu, Saragih mengatakan akan mengecek, mengingat kasus tersebut serupa pernah terjadi seperti  di Sasawa beberapa tahun lalu.

"Ini konsepnya seperti di Sasawa, di mana kehadiran TNI-Polri dipelintir oleh oknum-oknum yang berbeda ideologi," ujarnya.

"Kemudian memanfaatkan masyarakat untuk pergi mengungsi dan membuat isu adanya operasi militer atau penyisiran aparat gabungan," sambungnya.

Ia pun membeberkan beberapa waktu lalu juga ada postingan di media sosial Facebook yang menyebut aparat gabungan melaksanakan kekerasan warga di kampung tersebut.

Saragih pun menepis postingan tersebut dan menyebutnya sebagai berita hoaks.

"Kegiatan-kegiatan seperti ini merupakan bentuk provokatif yang bisa mengganggu keamanan," tegasnya.

Baca juga: [UPDATE] Korban Tewas Akibat Serangan KKB Papua di Pegunungan Bintang Bertambah Jadi 3 Orang

Saragih menambahkan informasi pengungsian itu juga dirinya terima.

Namun, anehnya dibawa laporan tersebut tertera hashtag #IndonesiaPenjajah, #StopOperasiMiliter dan #FreeWestPapua.

"Kalau dilihat dari lapor itu kita bisa disimpulkan kelompok ini adalah orang-orang yang memiliki ideologi berbeda," imbuhnya

"Namun mereka tetap warga negara Indonesia yang harus diberikan pemahaman-pemahaman tentang bernegara yang baik," tandasnya. (*)

Sumber: Tribun Papua
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved